MEMBACA NOVELA "YANG PERGI, YANG TINGGAL"

 


YANG PERGI, YANG TINGGAL, Sekilas saat membaca judul ini, tentu saja dalam dugaku, kisah ini akan menggabarkan sebuah peristiwa kepergian dan pilihan untuk bertahan. Dan benar saja. Kisah ini sungguh memilukan. Sebuah kondisi yang mungkin akan sangat berat jika dialami oleh siapa pun di dunia ini. Namun seyogyanya sebuah karya sastra yang syarat akan nilai-nilai kehidupan. Dalam novela ini, nilai-nilai itu sungguh sangat menyentuh. Membuatku tak hanya berpikir, namun juga memilih untuk menuliskannya Kembali.

Sudah hampir empat bulan aku menetapkan diri untuk tinggal di Jogja. Dan ini merupakan buku pertama mungkin yang kubeli saat tiba di Jogja. Di kedai basa-basi yang tentu saja lengkap dengan berbagai kisah dan harapan yang bergejolak dalam diri. Bayanganku tentang banyak hal mungkin belum menemui ujung yang indah. Tak hanya berdasar kesimpulanku sendiri, tapi mungkin pandangan itu juga muncul dari sekitar. Tapi begitulah hidup, kita yang menjalani dan kita yang tahu konsekuensinya. Kita hanya butuh untuk pasrah lalu melampauinya dengan cara dan usaha terbaik.

Kembali pada novela yang saat ini menemaniku di kedai basa basi lagi. Aku ingin berbagi kisah tentang hasil membacaku yang selalu kutunda-tunda. Itu buruk, tapi aku bersyukur aku bisa menyelesaikannya.

Tokoh dalam novela ini adalah Arjani. Ia anak kecil yang dalam hal ini dikisahkan usinya sekita 18 tahun. Lebih muda satu tahun dari usia ibunya saat terakhir ia melihat ibunya. Dari situlah kisah itu bermula. Keadaan yang baik-baik di awal yang berjalan tak sesuai irama dalam pikiran membuat hidupnya sungguh sangat penuh tantangan.

Dilahir dengan kekurangan secara fisik. Dan tumbuh dengan perlahan penglihatan yang mulai kabur. Membuat Arjani menjadi sosok yang dekat dengan keadaan penuh kesinisan di lingkungannya. Dan karena itu pula, ibunya pergi dan setelah ibunya pergi kedaan makin berbeda. Apalagi bapak yang biasa membacakan cerita untuknya juga di panggil oleh Tuhan.

Singkat cerita dengan berbagai kesulitan hidup itu, Arjani masih sangat menyalahkan dirinya sendiri. Kondisinya yang berbeda dari semua orang, membuat orang yang ia sayangi memilih pergi meninggalkannya. Betapa hal itu sungguh mengusiknya sampai usianya sekarang.

Tentu saja yang membuatku semangat membaca novel aini, salah satunya adalah karena setting kisahnya itu ada di lereng Merapi. Jogja sekali kataku. Dan itu membuatku teringat aku juga pernah membeli sebuah novel tentang Jogja yang ditulis oleh Romo Banar, dan hasil riview bukunya berhasil dimuat salah satu koran di Jogja. Aku sangat ingin mengulang momen sangat menikmati kisah-kisah seperti itu. Dan jujur saja aku berharap akan menemukan sesuatu yang baru tentang Jogja dan Merapi khususnya.

Namun aku tak betul-betul kecewa setelah tak menemukan jawaban yang memuaskan atas harapanku itu. Aku menemukan sesuatu yang lain. Sebelum kisah dalam novel aitu ditutup. Merapi mulai mengeluarkan isi perutnya. Dan hujan abu betul-betul menutupi lereng Merapi. Dan Arjani yang yang tak lagi bisa melihat itu, terpaksa harus mencari pongo anjing kesayangannya. Memilih untuk tidak bergabung dengan tetangga maupun keluarganya yang saat itu lari bersama mengungsi dari amuk Merapi. Sebab Pongo adalah teman sekaligus satu-satunya yang ia anggap paling menemani kesendiriannya.

Tak kunjung menemukan Pongo, Arjani justru terposok dalam ngarai dan membuat kakinya patah. Kepala berdarah. Dan bayangan ajal akan menjemputnya sungguh sangat dekat. Dan dalam kondisi seperti itu, ia masih berharap Pongo baik-baik saja.

Dengan kondisi yang sungguh sangat tak memungkinkan lagi berjalan. Tubuh yang mulai merasakan sakit di mana-mana itu. Bayangan ibu yang meninggalkannya datang. Dan tak pernah kubayangkan. Bahwa dalam kisah ini, dialog arjani dan bayangan ibunya justru mengarahkan pada Kesimpulan bahwa betapa kesepiannya ibunya itu. Bahwa betapa sungguh sama-sama merasakan kesendirian seperti Arjani saat ini.

Beragam pertanyaan, hujatan, hinaan, sungguh membuat ibunya sendiri. Dan itu membuat Arjani makin menyalahkan dirinya sendiri.

Siapa sangka pula, suara anjing yang menyalak di kepasrahannya dijemput malaikat maut itu membuat Arjani ditemukan oleh orang-orang yang menyisir berbagai wilayah lereng Merapi. Dan di saat itulah Arjani menjadi sadar, bahwa ia masih diberi kesempatan untuk mencari ibunya, dan saling mengutarakan kesendiriannya.

Jogja, 31 Agustus 2025

Komentar

Postingan Populer