BAGAIMANA HARUS MEMILIH

“KEMBALI pada rencana untuk membuat perencanaan. Satu hal yang kurasakan setelah memunculkan niat untuk membuat perencanaan adalah diikutinya niat baik itu dengan munculnya berbagai ide. Bahkan banyak ide bisa muncul secara bergantian. Dan yang terjadi setelahnya adalah aku lebih sering tidak bergerak sama sekali. Aku lebih menikmati kemunculan satu persatu ide itu dari kepalaku.

Akhirnya, aku harus tahu, bagaimana aku harus memilih?

Meskipun setelah memutuskan harus memilih salah satu ide yang paling realistis untuk dilakukan. Aku merasa memilih pun tak sesederhana itu. aku harus benar-benar tahu apa yang bisa, tidak bisa, mungkin, tidak mungkin, dan pastinya yang bisa kulakukan terhadap ide itu untuk sampai pada titik tumbuh menjadi sesuatu yang baru_berkembang dan maju.

Di tengah kesadaranku harus memilih satu ide itu, aku justru merasakan saat itu justru muncul banyak ide. Tentunya itu menjadikan banyak pilihan yang ada di kepalaku. Aku tak pernah curiga ini berbahaya, atau khawatir ini akan berdampak pada tidak bergeraknya aku untuk melakukan sesuatu, seperti yang lalu-lalu. Tapi aku benar-benar menikmati ini semua.

“Itu baik untukmu. Kamu benar-benar bisa menikmatinya. Tapi kamu harus ingat, bahwa kamu harus tahu kapan mewujudkan ide-ide itu!”

Seperti ada yang berbisik padaku siang itu. Suara perempuan itu memuji sekaligus mengingatkanku. Memang, ketika ide-ide itu muncul dengan derasnya, yang harus kita lakukan adalah menikmatinya satu persatu. Tentu ini agar ide-ide itu akan menancap pada ingatan dan lebih baik lagi setelahnya telah terancang sebuah langkah pertama, kedua, bahkan sampai akhir.

Jika kita justru mengabaikan ide-ide itu. Khawatirnya, kita tak peka lagi terhadap merespon sekitar kita dalam bentuk ide. Dan itu akhirnya membuat kita justru merasa sedang tidak beruntung, sedang buntu, sedang tidak bisa berpikir, sedang tidak bisa berimajinasi. Aku tahu rasanya itu, pasti kita semua pernah mangalaminya. Dan kita sering berdoa agar ide-ide itu bisa muncul lagi. Kita juga tahu, bahwa doa juga sebuah usaha untuk pasrah, tapi usaha untuk berlatih memunculkan ide adalah sesuatu yang tak bisa ditawar atau dilewatkan.

“Segeralah membuat perencanaan, meskipun ide-ide itu masih bermunculan. Seiring langkah pertamamu dalam perencanaan, kamu akan menemukan percabangan yang nantinya bisa dijadikan pertimbangan untukmu memilih.”

Perempuan itu kembali mengingatkanku. Aku harus segera mulai membuat perencanaan. Lalu, kuambil beberapa lembar kertas untuk membuat maping atau perencanaan. Mengawalinya dengan berdoa, kutuliskan satu persatu ide yang ada. Kutulis semuanya, dan kuhapus satu persatu yang menurutku kurang realistis untuk kulakukan.

Setelahnya aku mulai menuliskan berbagai ukuran atau target sekaligus cara untuk mencapainya. Dari situ akhirnya aku tahu kalau aku harus melakukan ini, karena ini, caranya begini, dan dipastikan hasilnya seperti ini pada saat yang kita inginkan nanti.

“Bagus kamu sudah mulai mengerti. Tapi kuingatkan lagi, kamu masih belum sepenuhnya bisa membuat perencanaan. Kamu harus terus berusaha dan belajar!”

“Baik, terima kasih.” Kataku lirih untuk perempuan itu. yang dengan kesadaran penuh, aku tahu bahwa aku hanya mengingat pertemuanku dengan perempuan itu kemarin. Jadi, bisa dikatakan bahwa hanya bayangan perempuan itu yang sedang datang padaku. Meskipun begitu, aku tetap harus berterima kasih padanya.

Komentar

Postingan Populer