SEMUA DARI AYUNAN IBU
SIAPA manusia yang ingat rasanya berada dalam ayunan
ibu. Ayunan tangan yang penuh dengan kelembutan dan juga kasih sayang. Jika ada
pertanyaan demikian, mungkin hampir semua orang akan menjawab tak mengingatnya.
Tapi yakinlah bahwa perasaan tenang akan kasih sayang ibu akan selalu melekat
di hatimu. Perasaan yang tak mudah diutarakan tapi betul-betul lekat dan tak
terpisahkan sampai kapan pun.
Ini sebetulnya usahaku untuk mengenang ibu. Ibuku berpulang di
bulan lahirku. Dan ibuku pun berpulang di hari lahirnya. Dan bagi kalian yang
sedang membaca tulisan ini, aku ingin sengaja menyisipkan doa untuk ibuku.
Semoga kalian pun ikut berdoa denganku. Semoga ibuku bahagia di sisi Allah SWT.
Aamiin. Alfatihah...
Terima kasih atas doanya,,,
Jadi, foto di atas adalah salah satu perjalananku di ujung timur
pulau jawa, Banyuwangi. Foto itu di pantai Pulau Merah. Dan yang mengambil
fotonya adalah Gozali temanku. Lagi-lagi aku tak ingat persis waktunya kapan.
Dan lagi-lagi aku pun tak ingat persis itu dalam momen apa aku melakukan
perjalanan ke Banyuwangi.
Kalau tak salah ingat, waktu itu aku juga ke gunung Ijen. Kalau ke
Gunung Ijen waktu itu untuk pertama kalinya, kalau ke Pulau Merah itu untuk
kedua kalinya. Aku sengaja memasang foto ayunan kaki. Sebab aku ingin mengenang
ibu lewat kenanganku tentang perjalanan. Tak hanya perjalanan di Banyuwangi
itu, tapi juga perjalanan-perjalanan yang lain termasuk langkah baru dalam
hidupku.
Meski tak menyampaikannya secara langsung. Saat aku akan melakukan
perjalanan jauh, seperti ke Banyuwangi, atau ke tempat lain aku selalu meminta
kakakku untuk menyampaikannya pada ibuku. Ibuku tak memakai gawai, jadi aku
harus meminta izin lewat kakakku.
Karena aku suka dengan pendakian, meskipun pendakian yang kulakukan
tak sebanyak orang-orang yang menyebut dirinya pendaki. Perjalanan menapaki
terjal sebuah jalur pendakian juga tak luput menjadi kenanganku tentang izin
ibu untuk melakukannya.
“Mbak omongne emak e aku arep
munggah gunung.”
Itu yang biasa kulakukan saat aku mau main jauh. Dan tak pernah ada
larangan agar tak usah berangkat. Biasanya mungkin hanya diminta untuk tetap
hati-hati. Bahkan untuk tanya mau ngapain mendaki gunung pun ibuku tak akan
menanyakannya. Begitulah ibuku amat sangat percaya bahwa yang dilakukan anak
laki-lakinya ini bukan sesuatu yang merugikan orang lain.
Untuk perihal melakukan langkah baru. Saat akan melakukan ujian,
saat akan mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa baru maupun seleksi penerimaan
pegawai baru. Aku juga titip pada kakak untuk disampaikan permintaan doaku pada
ibuku.
Dan untuk yang satu ini, perihal langkah baru, aku biasanya
menyampaikan, minta doa saat mengecup tangannya saat akan berangkat keluar
rumah. Bahkan aku bisa lebih dari satu kali mengecup tangannya sampai
benar-benar berangkat. Termasuk kali terakhir aku berpamitan untuk berangkat ke
Malang. Aku mengecup tangannya dua kali.
Bu, maaf orang-orang tak pernah menyebutku sukses. Dan ketakutanku
adalah itu menyakiti hatimu, juga bapak. Meskipun begitu, aku bersyukur bisa
sejauh ini berkat doa-doamu. Dan doa bapak tentunya. Terima kasih atas
semuanya.
Yang bisa kulakukan adalah melanjutkan langkah-langkah kaki ini Bu.
Langkah kaki yang selalu ingin diiringi dengan hati yang selalu terhubung
dengan kasihmu Bu. Kasihmu yang melekat erat dalam hatiku. Sebab semua
langkahku ini dimulai dari ayunan ibu.
Sabtu, 4 Januari 2025

Komentar
Posting Komentar