sebuah foto

 


SEBUAH  foto terkadang menjadikan kita menyelami kisah masa lalu. Kisah-kisah yang sebetulnya tak pernah terpikirkan untuk dikenang. Apalagi untuk dibahas ulang.

Kisah ini terjadi sudah sangat lama. Kurang lebih tahun 2016 yang lalu. Begitulah kira-kira aku tak mencatat tanggalnya dengan baik. Pun saat aku menulis kisah ini, aku sengaja sambil mengais ingatanku tentang peristiwa itu. Sebuah peristiwa penting yang menjadi bagian dari masa muda yang sulit untuk diulang.

Itu adalah salah satu foto yang diambil di kantor redaksi Kompas di Palmerah Jakarta. Aku sendiri kurang tahu, tepat alamatnya seperti apa. Yang jelas Palmerah dan Jakarta seperti itu.

Kisah uniknya, aku datang ke Kompas waktu itu bersama rombongan teman-teman sesame penerima beasiswa Bidikmisi, sekarang disebut KIP. Setiap tahun kami rutin mengadakan kunjungan ke Jakarta untuk bertemu dengan banyak tokoh-tokoh nasional. Termasuk ke Kompas, yang korannya setiap hari ada di depan pintu gerbang basecamp kami. Iya, kami langganan koran dengan memanfaatkan status kami sebagai mahasiswa.

Sehingga waktu datang ke redaksi Kompas, kami tidak benar-benar belum tahu perihal Kompas. Khususnya aku sendiri sebetulnya sudah tahu perihal Kompas, dan aku sudah mulai menyukai kegiatan menulis. Namun waktu itu aku belum tahu perihal kesukaanku dalam menulis cerpen.

Yang paling kuingat dari kunjungan itu adalah, perihal konsistensi menulis dari seorang Gus Sholah adik Gus Dur. Jadi, waktu dalam pertemuan itu disampaikan bahwa seorang adik Gus Dur yang sudah memiliki nama besar pun saat mengirim tulisan di Kompas juga harus menemui tantangan tersendiri. Bahkan waktu itu disampaikan bahwa tulisan ke sekian puluh bahkan ratus yang dikirim ke Kompas baru akhirnya tulisan opini itu dimuat. Dan setelahnya tulisannya rutin mengisi kolom opini di Kompas.

Dari kisah itu, di awal tahun ini aku sengaja mengingat ulang peristiwa itu. Untuk mengingatkanku agar tak berhenti menulis. Tak berhenti berproses untuk memperbaiki tulisanku. Dan tak lupa untuk tak berhenti mengirimkannya ke media.

Kurasa ini waktu yang tepat untuk merefleksikan diri perihal satu tahun yang lalu. Perihal banyaknya rencana dan rencana. Pun perihal kegagalan, dan perihal kehilangan. Dan di awal tahun ini pun alangkahnya baiknya kalau aku berbaik pada diriku untuk selalu optimis bahwa tidak ada kata terlambat sama sekali untuk memulai satu hal baru dan melanjutkan banyak hal baik dengan dilengkapi nilai luhur konsistensi.

Komentar

  1. Sirkel Bidik Misi ndi iki kok progesip. Menyesal biyen kok ndak lapo-lapo rasane...

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer