BERDIAM DI HABITAT BANTENG JAWA


 

MERUBETIRI  salah satu Taman Nasional di Jawa Timur yang luas wilayahnya terbesar kedua setelah Taman Nasional Alas Purwo di Banyuwangi. Cakupan wilayahnya meliputi Kabupaten Jember dan sebagian di wilayah Kabupaten Banyuwangi. Tentu saja aku tak akan mendeskripsikan perjalanan ini dengan terlalu formal. Biar tak dianggap sebagai sebuah laporan ilmiah.

Kisah ini terjadi sudah sangat lama. Kurang lebih tahun 2016 yang lalu. Begitulah kira-kira aku tak mencatat tanggalnya dengan baik. Pun saat aku menulis kisah ini, aku sambil mengais ingatanku tentang peristiwa itu. Sebuah peristiwa penting yang menjadi bagian dari masa muda yang sulit untuk diulang.

Tepatnya waktu itu, aku bersama orang-orang yang ada di foto, berangkat ke tempat tersebut untuk melaksanakan tugas kuliah. Sekali lagi aku tak akan menuliskan banyak-banyak perihal tugas apa yang kita emban di sana. Yang jelas, pernah sebulan di sana memberikan pengalaman penting yang menjadi bagian dari perjalanan masa muda.

Tepatnya, lokasi itu ada di Resort Bandealit. Kabarnya waktu itu, di beberapa informasi yang kita himpun. Di sana kita akan dengan mudah menemui banteng jawa. Nama latinnya Bos Javanicus. Tak hanya itu di sana juga kitab isa melihat bunga endemik Indonesia. Yaitu Rafflesia zolingeriana. Meski kita sering mendengar bunga itu disebut-sebut, tentu saja yang familiar di telinga kita adalah Rafflesia arnoldi yang ada di Bengkulu. Yang ada di Merubetiri itu beda, ukurannya lebih kecil.

Kisah yang kutulis ini sebagian saja tentunya. Tak akan lengkap. Dan aku akan bersyukur jika teman-temanku melengkapi. Aku betul-betul mengais ingatanku tentang sarang banteng jawa itu. Sebab yang paling melekat dalam ingatan itu adalah kekecewaan kita tak berhasil melihat banteng secara langsung. Makanya aku memberi judul tulisan ini seperti judul di atas. Biar ingatan tentang naik ke menara pengamatan banteng muncul lagi.

Ini betul-betul hutan belantara. Tak ada Listrik. Meski ada desa penyangga yang ada di Kawasan Taman Nasional ini, tapi kita merasakan hari-hari dengan sumber Listrik terbatas. Jadi tentu saja kita harus berhemat perihal baterai Hp. Tapi kita masih sempat lho nonton drama korea dari Hp. Dan itu menjadi pengalaman pertamaku nonton drama korea.

Sampai di paragraph ini, aku merasa tak seruntut yang kubayangkan untuk mengisahkan kisah masa lalu itu. Biar ada kesinambungan dengan judulnya aku akan mengisahkan sedikit kenapa kita tak bisa melihat banteng jawa secara langsung.

Jadi….. Banteng-banteng jawa itu sekarang jarang ke dekat perkampungan. Kawanan mereka sudah lebih masuk ke tengah hutan. Sebenarnya pihak taman nasional sudah membuatkan savana buatan dan ada menara pengamatannya tadi. Tapi banteng-banteng itu tak lagi muncul.

Menurut petugas yang ada di sana. Saat ngobrol dari magrib sampai sahur, setiap hari. Banteng-banteng itu takut petasan petani yang mengusir babi hutan dari tanamannya. Dulu banteng-banteng jawa itu mudah dilihat sebab mereka mencari makan di bawah kopi-kopi. Namun, saat kopi-kopi itu ditebang dan diganti sengon yang dimanfaatkan dengan tumpang sari jagung di bawahnya mereka mulai bergeser ke tengah hutan.

Sebenarnya kisah di sana sangat banyak. Tentang petugas-petugasnya yang sangat asik. Tentang perjalanan. Tentang memancing. Tentang naik kano. Tentang lutung jawa. Pun tentang kita yang sulit untuk salat berjamaah. Dan sepertinya aku sangat tak runtut menceritakannya wal hasil ini semoga kisah sederhana yang bisa membuatku nostalgia.

Komentar

Postingan Populer