BROMO DI SUATU HARI
BROMO dengan
keindahan alamnya. Bromo dengan kekayaan budayanya. Serta Bromo dengan beragam
kisah-kisahnya. Entah itu kisah orang-orang yang tinggal di sekitarnya atau
kisah orang yang datang mengunjunginya. Tentang kisah-kisah itu juga, setiap
orang punya cara untuk mengenangnya. Termasuk aku dengan kisahku, yang
kunikmati ulang dengan mengenangnya lewat tulisan.
Kisah ini terjadi sekitar sembilan tahun yang lalu. Mula dari
rencana perjalanan itu pun aku sudah lupa. Tapi aku tak lupa dengan siapa saja
perjalanan itu kulakukan. Sepuluh pemuda dengan segala isi kepalanya itu
berangkat dengan suka ria. Di dalam rombongan ada seorang yang sudah pernah ke
Bromo sebelumnya. Dan sembilan orang dari rombongan itu belum pernah
mengunjunginya. Perjalanan itu pun jadi yang pertama bagiku.
Tak tahu pasti tujuan utamanya, pergi ke Bromo. Hanya saja, gaung
tentang keindahan Bromo memang tak terelelakkan. Jadi, kurang lebih itulah
tujuan perjalanan itu. Aku pun tak punya gambaran sama sekali tentang pendakian
sebuah gunung. Aku juga tak protes jika ada yang bilang jika pergi ke Bromo
belum bisa dikatakan sebagai aktivitas mendaki. Hanya saja, bagiku, berada di
sebuah gunung merupakan keistimewaan tersendiri.
Dari perjalanan itu, banyak hal yang bisa kujadikan pelajaran. Ada
peristiwa-peristiwa yang kadang mengingatnya membuatku rindu atau bahkan
tersenyum sendiri. Kalau sedih, rasanya tidak sih. Sebab aku menikmati
perjalanan itu.
Peristiwa pertama adalah peristiwa ban bocor, dari salah satu motor
kita. Tentu saja itu bukan satu hal yang direncanakan. Tapi itu bisa terjadi
dan menimpa siapa pun. Satu peristiwa itu yang akhirnya membuat kita harus
menentukan sikap bersama. Yaitu saling menunggu untuk tetap melanjutkan
perjalanan bersama-sama.
Peristiwa selanjutnya adalah, padamnya lampu dari dua motor kita.
Tentu saja dalam perjalanan itu juga merupakan bagian yang tidak direncanakan.
Masak iya, kita merencanakan perjalanan dengan motor tanpa penerangan. Dan yang
tak kusangka adalah matinya lampu motor itu menyebabkan kita terpisah menjadi
dua rombongan saat di lautan pasir Bromo. Satu rombongan berhenti deket dengan
kawah Bromo, satunya berhenti di dekat penanjakan. Jadi, bagi kalian yang
pernah ke Bromo dan menikmati matahari terbit, kita waktu itu tidak bisa
menikmatinya.
Aku termasuk menjadi bagian dari rombongan yang berhenti di
tengah-tengah lautan pasir yang lebih dekat dengan kawah. Sebab dua motor di
rombongan itulah yang lampu motornya padam.
Oiya ada cerita lucunya juga waktu itu. Karena gelapnya lautan
pasir, kita memutuskan juga untuk mendirikan tenda di tengah lautan pasir.
Tentu saja karena gelap, kita kurang tahu kalau itu cukup berbahaya, sebab bisa
jadi itu perlintasan jeep. Terlebih waktu itu kapasitas tenda kita hanya cukup
untuk enam sampai delapan orang saja. Jadi dari kita ada yang di luar tenda.
Bisa kan membayangkan betapa dinginnya. Sebenarnya waktu itu ada warga lokal
yang menawarkan jasa untuk diantar ke penanjakan kalau tidak salah. Tapi kita
tidak mau, karena uang kita terbatas. Hehe
Waktu itu, kita ada beberapa foto. Tapi belum kepikiran untuk
mengabadikan sesuatu yang estetik untuk diunggah di media sosial. Makanya,
karena punya arsip foto yang menurutku indah dan penuh cerita akhirnya aku
ingin menulis sekelumit ingatan yang tersisa ini. Barangkali cerita ini kurang
detail dan lengkap. Dan tentu saja ini hanya subjektif dari sudut pandangku
saja. Pada intinya terima kasih pada orang-orang yang ada di rombongan yang tak
kusebut semuanya. Sebab kita pernah melakukan perjalanan yang ternyata itu bisa
menjadi bagian indah di masa muda kita.

Komentar
Posting Komentar