MEMBACA GUS DUR DARI KISAH-KISAH


ENTAH MENGAPA sampul buku selalu menjadi daya tarik tersendiri bagiku. Termasuk buku satu ini yang sudah berdiam diri cukup lama di sebuah rak rotan di sisi ruang tamu kontrakan. Bukan tidak ada yang menyentuh, barangkali memang mengambil lalu membacanya membutuhkan waktu yang tepat. Dan di akhir bulan lalu, buku dengan didominasi warna putih di sampulnya, lalu sedikit warna hijau sebagai pelengkapnya, dan karikatur seorang kiai yang jelas dibuat oleh perancang sampul sebagai point of interest dari sampul buku ini. Yaitu karikatur seorang Gus Dur.

Iya, buku ini adalah perihal Gus Dur yang ditulis oleh Hairus Salim. Tentu di kalangan pecinta Gus Dur, nama Hairus Salim sering didengar. Selain penulis, bagiku nama tersebut sangat bisa dilekatkan dengan teman-teman Gusdurian. Tentu saja aku tidak akan membahas perihal Gusdurian, aku hanya ingin berbagi cerita tentang buku ini saja. Mungkin sedikit saja mengenai buku ini. Sebab jika ingin tahu lebih lengkap, ya beli bukunya saja, lalu baca sampai selesai.

Jadi, akhir bulan lalu, tanpa sengaja saat bersantai di ruang tamu kontrakan, dengan gelas kopi dan sebatang kretek di tangan kanan aku bersiap menyelesaikan membaca sebuah buku. Maaf buku itu tak selesai kubaca pada akhirnya. Dan buku dengan judul Gus Dur Sang Kosmopolit ini yang justru kuambil lalu mulai kubaca. Harapannya saat itu aku bisa menyelesaikan buku ini sekitar seminggu saja. Namun hingga tulisan ini dibuat, aku menyelesaikan membaca buku ini kurang lebih tiga mingguan. Hampir sebulan. Ya begitulah, aku harus bersyukur aku bisa menyelesaikannya.

Karena selesai membacanya, aku jadi ingin menulis cerita tentang pengalaman membaca buku ini. Dalam posisi niat saja aku sudah membayangkan akan membuat ulasan yang sangat menarik. Karena sudah berimajinasi membuat ulasan yang bombastis akhirnya untuk menuliskannya aku justru banyak memikirkannya. Pada akhirnya, dari niat itu sampai kuberanikan menulis ini, butuh waktu sekitar lima harian. Saat menulis ini, akhirnya aku belajar sesuatu, bahwa kualitas itu tercipta salah satunya sebagai buah dari konsistensi. Jika aku konsisten belajar mengulas buku, tentu saja ulasan-ulasan itu aku menemui bentuk dengan kualitas tertentu. Karenanya, mohon maaf jika ulasan buku ini, atau yang akan kulabeli sebagai cerita buku, nantinya isinya lebih banyak curhatnya.

Langsung saja, mari kita kembali merealisasikan niatku di awal saat akan membuat tulisan ini, yaitu membuat cerita buku.

Memang sampul buku yang didominasi warna putih selalu menarik untukku, termasuk buku kumpulan cerpen karyaku, kemarin kubuat dengan latar warna putih. Aku tak tahu lebih jauh tentang filosofinya, bagiku, mungkin lebih karena aku seorang pemula saja. Termasuk dalam hal mengulas buku. Semoga kedepannya bisa menjadi lebih baik lagi. Tentunya agar bisa mengambil banyak pelajaran dari sebuah buku yang dibaca.

Seperti halnya yang tertulis di sampul bagian belakang. Di situ dituliskan sebuah kutipan atau testimoni dari putri Gus Dur. yaitu Alissa Wahid yang merupakan Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian. Yang testimoninya sebagai berikut: “Mas Hairus Salim kalau menulis tentang Gus Dur, storytelling-nya selalu ciamik.”

Benar adanya, membaca satu, dua judul bab dalam buku ini kesan pertama yang kudapat adalah bahwa aku seperti sedang mendengarkan cerita dari penulis. Seperti pengalaman-pengalaman yang selama ini kualami saat bertemu dengan teman-teman yang mengisahkan seorang tokoh. Termasuk pertemuanku dengan sosok-sosok yang bergerak dalam jaringan Gusdurian khususnya di Malang. Banyak cerita yang didasarkan adanya persaksian secara langsung. Begitulah kira-kira perasaanku saat mulai membaca buku ini. Aku seperti sedang duduk di hadapan penulis sambil menyimaknya dengan hikmat.

Memasuki banyak cerita dan persaksian dalam buku ini aku akan menyoroti salah satu judul yaitu “Inilah Dua Presiden yang Menulis Esai.” Jika ditanya kenapa aku memilih judul esai itu dibanding yang lain, tentu saja itu karena aku setuju akan hal itu. Bahkan di hari ini esai-esai yang ditulis oleh dua presiden ini masih bisa kita baca. Tentu saja, membaca esai-esai itu dapat kita jadikan refleksi dengan kehidupan kita hari ini. Barangkali ada bagian-bagian dari hari ini yang ternyata sesuai konteks dalam esai-esai itu.

Pernah pada suatu kali bersama teman-teman di Malang, kita sengaja mengkaji esai-esai Gus Dur satu minggu sekali. Setiap pertemuan kita akan membincang salah satu esai yang dipilih oleh pemantik. Ya begitulah ternyata dari esai-esai itu ada sesuatu yang ternyata masih relate dengan realita hari ini. Bahkan misalkan membincangkan sebuah persoalan ternyata persoalan itu sampai hari ini masih jadi pekerjaan rumah bersama–belum ada solusi.

Dalam buku ini kurang lebih ada 16 judul esai. Yang tentu saja keseluruhan membincang perihal Gus Dur. Ditambah lagi terdapat galeri foto yang melengkapi dalam buku ini. Dan tentu saja foto-foto itu menjadi pelengkap dan visualisasi dari esai-esai yang ada agar pembaca semakin rindu bahkan penasaran dengan Gus Dur.

Satu lagi tentang Kosmopolit yang ada di judul buku ini. Bagian judul esai dalam buku ini yang membincang perihal kosmopolit yaitu ada di halaman 131 dengan judul menjadi kosmopolit. Disitu ternyata disampaikan bahwa perihal kosmopolitanisme itu juga pernah dituliskan oleh Gus Dur, judulnya Universalisme Islam dan Kosmopolitanisme Peradaban Islam.

Mungkin itu saja perihal cerita buku ini. Banyak hal yang bisa didapat dengan membaca buku ini. Untuk belajar tentang sejarah, perjuangan, dan tentu saja belajar menjadi manusia yang kosmopolit. Saya yakin jika kalian membaca buku ini, banyak hal juga yang bisa kalian sampaikan jauh lebih banyak dari tulisan sederhana dari seorang pemula yang ingin mengabadikan momennya membaca buku.

 Malang, 19 Juli 2024

x

Komentar

Postingan Populer