MEMBACA GUS DUR DARI KISAH-KISAH
![]() |
Iya, buku
ini adalah perihal Gus Dur yang ditulis oleh Hairus Salim. Tentu di kalangan
pecinta Gus Dur, nama Hairus Salim sering didengar. Selain penulis, bagiku nama
tersebut sangat bisa dilekatkan dengan teman-teman Gusdurian. Tentu saja aku
tidak akan membahas perihal Gusdurian, aku hanya ingin berbagi cerita tentang
buku ini saja. Mungkin sedikit saja mengenai buku ini. Sebab jika ingin tahu
lebih lengkap, ya beli bukunya saja, lalu baca sampai selesai.
Jadi, akhir
bulan lalu, tanpa sengaja saat bersantai di ruang tamu kontrakan, dengan gelas
kopi dan sebatang kretek di tangan kanan aku bersiap menyelesaikan membaca
sebuah buku. Maaf buku itu tak selesai kubaca pada akhirnya. Dan buku dengan
judul Gus Dur Sang Kosmopolit ini yang justru kuambil lalu mulai kubaca.
Harapannya saat itu aku bisa menyelesaikan buku ini sekitar seminggu saja.
Namun hingga tulisan ini dibuat, aku menyelesaikan membaca buku ini kurang
lebih tiga mingguan. Hampir sebulan. Ya begitulah, aku harus bersyukur aku bisa
menyelesaikannya.
Karena
selesai membacanya, aku jadi ingin menulis cerita tentang pengalaman membaca
buku ini. Dalam posisi niat saja aku sudah membayangkan akan membuat ulasan
yang sangat menarik. Karena sudah berimajinasi membuat ulasan yang bombastis
akhirnya untuk menuliskannya aku justru banyak memikirkannya. Pada akhirnya,
dari niat itu sampai kuberanikan menulis ini, butuh waktu sekitar lima harian.
Saat menulis ini, akhirnya aku belajar sesuatu, bahwa kualitas itu tercipta
salah satunya sebagai buah dari konsistensi. Jika aku konsisten belajar
mengulas buku, tentu saja ulasan-ulasan itu aku menemui bentuk dengan kualitas
tertentu. Karenanya, mohon maaf jika ulasan buku ini, atau yang akan kulabeli
sebagai cerita buku, nantinya isinya lebih banyak curhatnya.
Langsung
saja, mari kita kembali merealisasikan niatku di awal saat akan membuat tulisan
ini, yaitu membuat cerita buku.
Memang
sampul buku yang didominasi warna putih selalu menarik untukku, termasuk buku
kumpulan cerpen karyaku, kemarin kubuat dengan latar warna putih. Aku tak tahu
lebih jauh tentang filosofinya, bagiku, mungkin lebih karena aku seorang pemula
saja. Termasuk dalam hal mengulas buku. Semoga kedepannya bisa menjadi lebih
baik lagi. Tentunya agar bisa mengambil banyak pelajaran dari sebuah buku yang
dibaca.
Seperti
halnya yang tertulis di sampul bagian belakang. Di situ dituliskan sebuah
kutipan atau testimoni dari putri Gus Dur. yaitu Alissa Wahid yang merupakan
Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian. Yang testimoninya sebagai berikut:
“Mas Hairus Salim kalau menulis tentang Gus Dur, storytelling-nya selalu
ciamik.”
Benar
adanya, membaca satu, dua judul bab dalam buku ini kesan pertama yang kudapat
adalah bahwa aku seperti sedang mendengarkan cerita dari penulis. Seperti
pengalaman-pengalaman yang selama ini kualami saat bertemu dengan teman-teman
yang mengisahkan seorang tokoh. Termasuk pertemuanku dengan sosok-sosok yang
bergerak dalam jaringan Gusdurian khususnya di Malang. Banyak cerita yang
didasarkan adanya persaksian secara langsung. Begitulah kira-kira perasaanku
saat mulai membaca buku ini. Aku seperti sedang duduk di hadapan penulis sambil
menyimaknya dengan hikmat.
Memasuki
banyak cerita dan persaksian dalam buku ini aku akan menyoroti salah satu judul
yaitu “Inilah Dua Presiden yang Menulis Esai.” Jika ditanya kenapa aku memilih
judul esai itu dibanding yang lain, tentu saja itu karena aku setuju akan hal
itu. Bahkan di hari ini esai-esai yang ditulis oleh dua presiden ini masih bisa
kita baca. Tentu saja, membaca esai-esai itu dapat kita jadikan refleksi dengan
kehidupan kita hari ini. Barangkali ada bagian-bagian dari hari ini yang
ternyata sesuai konteks dalam esai-esai itu.
Pernah pada
suatu kali bersama teman-teman di Malang, kita sengaja mengkaji esai-esai Gus
Dur satu minggu sekali. Setiap pertemuan kita akan membincang salah satu esai
yang dipilih oleh pemantik. Ya begitulah ternyata dari esai-esai itu ada
sesuatu yang ternyata masih relate dengan realita hari ini. Bahkan misalkan
membincangkan sebuah persoalan ternyata persoalan itu sampai hari ini masih
jadi pekerjaan rumah bersama–belum ada solusi.
Dalam buku
ini kurang lebih ada 16 judul esai. Yang tentu saja keseluruhan membincang
perihal Gus Dur. Ditambah lagi terdapat galeri foto yang melengkapi dalam buku
ini. Dan tentu saja foto-foto itu menjadi pelengkap dan visualisasi dari
esai-esai yang ada agar pembaca semakin rindu bahkan penasaran dengan Gus Dur.
Satu lagi
tentang Kosmopolit yang ada di judul buku ini. Bagian judul esai dalam buku ini
yang membincang perihal kosmopolit yaitu ada di halaman 131 dengan judul
menjadi kosmopolit. Disitu ternyata disampaikan bahwa perihal kosmopolitanisme
itu juga pernah dituliskan oleh Gus Dur, judulnya Universalisme Islam dan
Kosmopolitanisme Peradaban Islam.
Mungkin itu
saja perihal cerita buku ini. Banyak hal yang bisa didapat dengan membaca buku
ini. Untuk belajar tentang sejarah, perjuangan, dan tentu saja belajar menjadi
manusia yang kosmopolit. Saya yakin jika kalian membaca buku ini, banyak hal
juga yang bisa kalian sampaikan jauh lebih banyak dari tulisan sederhana dari
seorang pemula yang ingin mengabadikan momennya membaca buku.
x

Komentar
Posting Komentar