PULANG
KUKIRA yang kulakukan adalah perjalanan panjang yang muaranya adalah sebuah puncak tinggi, yang akhirnya hidupku diliputi berbagai bentuk keindahan. Gemerlap dunia dengan berbagai perhiasan tiada tanding. Pastinya akan membuat iri setiap makhluk bumi yang melihat, pun memperhatikanku. Segala puji dan bangga akan menghampiriku selalu, setiap hari, dan di mana pun itu.
Sungguh tak tahu dirinya aku, seolah mendikte Tuhan yang maha
segalanya. Sungguh sombongnya aku, bangga dengan segala bentuk pencapaian yang seharusnya
aku tahu, itu kecil sekali, dan mungkin belum tentu terjadi di ujung
perjalananku nanti. Aku bersyukur karena aku dipertemukan jalan untuk pulang,
sekaligus jalan untuk melanjutkan lagi perjalanan
panjangku. Meski aku tahu selain aku menganggap hidup ini adalah persaksianku,
aku harus sadar aku harus bisa mengolah bentuk persaksian orang lain
terhadapku. Agar aku tak sakit hati.
“Tar, jangan melamun saja.
Lebih baik kamu balik lagi ke kota, aku tahu duniamu di sana. Kamu akan jauh
lebih hidup di sana dibandingkan di sini.”
Sial, aku dianggap melamun sepagi ini. Di rumah Kuma pula. Dan
lebih sial lagi Kuma juga yang berusaha menyadarkanku. Sebetulnya aku tak niat
melamun pagi ini. Aku hanya terpesona dengan salah satu buku tentang sebuah
Mantra Sastra yang ada di rak buku milik Kuma. Sedari malam aku membacanya dan
sampai pagi ini aku masih membacanya. Entah kenapa Kuma menegurku karena mendapati
aku sedang melamun. Aku curiga, sebetulnya aku tak melamun, melainkan merenung,
menerka inti dari setiap hal yang kutemukan dari buku Mantra Sastra yang ada di
tanganku ini.
“Kenapa kamu bisa mengatakan itu padaku. Kamu kan tahu, ini lebaran
pertama setelah semua orang dilarang merayakan lebaran secara terang-terangan
karena pandemi beberapa tahun lalu.”
“Aku memang tak bisa mengatakan ini benar atau salah. Apalagi ini
waktu lebaran, yang sudah seharusnya setiap yang bepergian jauh akan pulang
untuk saling bertemu dan saling terbuka meminta dan menerima maaf satu sama
lain antar sanak saudara. Tapi bukan persolan lebaran itu yang kumaksud. Aku
hanya melihat ada yang beda denganmu. Apalagi dengan rencanamu tak kembali lagi
ke kota setelah ini.”
“Lalu kalau boleh tahu apa alasanmu mengatakan aku akan jauh lebih
hidup di kota dibandingkan di sini?”
“Aku tak tahu persis apa alasanku. Tapi aku pernah melihatmu di
sana melalu sosial media milikmu, melihatmu dengan segudang kegiatanmu yang aku
sendiri belum pernah menemukannya di sini. Aku melihatmu sangat hidup lengkap
dengan pancaran ekspresi tulus di wajahmu.”
“Kamu tahu kan, kalau kata-katamu membuatku bingung?”
“Tentu aku tahu, karena aku tahu kita berdua berbeda. Aku belajar
banyak darimu dan aku suka kalau kamu pulang dan main ke rumahku seperti ini,
aku bisa memperolah banyak hal dari beragam warna ceritamu. Sedangkan kamu tak
memperoleh apa pun dariku.”
“Maksudmu aku jauh lebih pandai darimu?”
“Iya. Bahkan lebih dari itu, dengan banyak pengalamanmu, aku yakin
kamu seorang yang punya masa depan yang cemerlang. Tentunya masa depan yang
sesuai harapanmu.”
“Sebentar, maksudmu masa depan yang bagus dan cemerlang itu bukan
di sini. Makanya kamu bilang aku akan lebih hidup di sana (kota).
“Sepertinya begitu. Aku tinggal dulu Tar, kuambilkan sarapan buatmu,
biar melamunmu penuh tenaga. Haha.”
“Sial! Sudah kubilang aku tak melamun.”
***
Di awal perjalanan itu aku menemui banyak hal yang menggembirakan.
Penuh tualang dan puji-pujian. Aku menikmatinya, sangat menikmatinya. Kalau pun
itu perih, aku masih menganggapnya sebagai sebuah bagian dari perjalanan indah
ini. Perih itu menjadi bagian menarik dari cerita yang bisa kuhamburkan penuh
kebanggaan.
Iya, aku belum menyadarinya. Sampai di tengah perjalanan itu pun
aku belum menyadarinya. Apakah aku terlambat, tentu tidak. Aku hanya belum
menemukan aku yang digariskan oleh sang waktu itu sendiri. Tak kusangka
pertemuanku dengan diriku adalah diujung perjalanan itu sendiri. Ujung yang
kuanggap akan berbentuk indah penuh dengan gemerlap dan semerbak wangi-wangi pujian.
“Ini makan dulu Tar, jangan buru-buru melamun lagi.”
Suara Kuma memecahkan lamunanku. Aku hampir sampai (pada sebuah
sebab) yang sedang kucari dengan mengolah pikirku. Jujur saja, aku ingin
mencarinya dengan rasa. Tapi aku belum tahu bagaimana cara merasakannya. Meski
aku tahu bahwa pikiran ini justru akan menghambatku, tapi aku percaya, aku sedang
berusaha untuk berpikir jernih dengan sesekali menyisipkan rasa di tengahnya.
Bagaimana caranya?
Jika ada yang bertanya seperti itu tentu aku sendiri bingung
mencari jawabannya. Mungkin jawabannya akan muncul saat aku sudah mampu
merasakan dengan rasa yang sebenarnya. Semoga saja.
“Sudah kubilang, makan dulu. Biar melamunmu penuh gairah dan
tenaga.” Suara Kuma kembali melepas rangkaian yang sedang kubangun untuk kucari
sebab musababnya.
Tapi memang tak ada pilihan lain selain menanggapi Kuma lagi. Sebab
jika nanti aku kedapatan tampak melamun lagi, tak menanggapinya, tentu dia akan
berpikir yang tidak-tidak. Dia pasti akan bilang kalau aku seharusnya begini,
seharusnya begitu, dan berbagai macam pandangan aneh tentangku akan dia
utarakan panjang lebar lagi.
Jujur saja pendapatnya tentang aku akan jauh lebih hidup jika
berada di kota, itu saja masih belum kupecahkan, bagaimana bisa Kuma berpikir
seperti itu padaku.
“Ayo Kum makan juga. Jangan berpikir yang aneh-aneh lagi tentangku.
Aku hanya memikirkan buku tentang Mantra Sastra milikmu yang sedang kubaca ini.”
Dalihku pada Kuma agar dia tak mencoba menebak-nebak yang sedang kulakukan
didalam pikiranku.
“Parah memang kamu Tar. Aku dari tadi sedang makan di sampingmu.”
“Masak sih?” sambil kulayangkan pandang pada sebuah piring kotor
yang ada di samping Kuma. Dalam hati aku berkata, “segitu dalamkah aku
tenggelam memikirkannya?”
“TARAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA, cepat makan, jangan melamun lagi.”
Teriakan Kuma kali ini benar-benar memaksaku untuk berhenti sejenak
tentang perjalanan, ujung, keindahan dan mungkin bisa disebut sebagai
kesadaran.
***
“Sudah siap melamun lagi Tar?”
“Ngrokok dululah.”
“Sejak kapan kamu merokok?”
“Sudah lama, sejak zaman penjajahan.”
“Jangan jauh-jauh ngomongin penjajahan antar bangsa dululah Tar,
masing-masing dari diri kita juga sedang dijajah dengan pikirannya sendiri. Dan
jujur saja aku khawatir Tar.”
“Khawatir tentang apa?”
“Tentang diriku sendiri yang mulai bingung dengan apa yang kamu
katakan dari tadi, dan tentang kamu yang membuatku khawatir karena terlihat
banyak melamun.”
“Ahhhh, jangan pergi dulu kalau begitu, kita harus ngobrol serius
kali ini.”
Memang sepanjang malam ini, Kuma membiarkanku sendiri tenggelam
dalam bacaan buku Mantra Sastra miliknya. Dia hanya sesekali saja mengajakku
berbicara, mungkin karena aku tampak serius membacanya. Dia tak duduk di
sampingku sepanjang malam. Dia hanya mengamatiku sambil melakukan apa saja yang
bisa ia kerjakan di kamarnya. Aku tahu persis dia sedang ingin menanyakan
banyak hal padaku. Entah itu pengalamanku dari kota, atau tentangku yang
benar-benar membuatnya khawatir.
Sejak awal memang sudah kukatakan pada Kuma kalau usai lebaran
tahun ini aku tak akan balik lagi ke kota. Aku sudah selesai belajar sekaligus
dikurung di sebuah bangununan berbentuk balok
di kota. Saat pertama kukatakan itu, aku melihat sorot mata Kuma sedikit
menunjukkan rasa sedih. Entah itu memang benar-benar ekspresi sedih atau
bahagia mendengar aku sudah lulus, aku tak terlalu menganggapnya serius.
Pokoknya matanya berkaca-kaca.
***
Memang awalnya aku menemukan hal menarik sebagai pemantik pikiranku
tentang perjalanan hidupku ini, dari buku Mantra Sastra yang sedang kubaca ini.
Namun seolah gayung bersambut, perkataan Kuma tentang aku akan lebih hidup di
kota juga berkaitan dengannya.
Saya sendiri harus kebingungan dalam
menentukan sikap,terutama dalam mnentukan tempat berpijak. Saya pun pada
gilirannya memutuskan untuk tidak perbihak pada salah satu kutub. (Sastra
Jendra Hayuningrat Pangruating Dyu).
Kutub yang dimaksud dalam buku Mantra Sastra itu adalah kutub
tradisionalis dan modernis. Pilihan tokoh dalam buku itu untuk tidak perpihak
pada salah satu kutub adalah karena satu sisi tokoh itu punya pondasi kuat
tentang cara hidupnya meski itu dianggap kolot (tradisonal) orang lain, namun
secara pola pikir dia juga mengembangkan pola pikir yang selalu berkembang
(modern). Sehingga meski satu sisi dianggap kolot, tapi di sisi lain tokoh
dalam buku Mantra Sastra itu juga sangat maju dalam perkembangan ilmu
pengetahuan. Sehingga antara kutub tradisionalis maupun modernis tidak lagi
saling menolak satu sama lain, melainkan saling melengkapi.
Menarik bukan, ketika aku mengatakan pada Kuma akan menetap di
desa, yang sesungguhnya alasan besarnya adalah untuk menggali muasal diriku
sendiri. Kuma dengan alasannya yang masuk akal pula mengatakan aku akan jauh
lebih hidup jika di kota. Sebab menurutnya banyak hal yang bisa kulakukan di
kota tak bisa kulakukan di desa.
“Menurtmu aku bisa melakukan apa yang dilakukan tokoh dalam buku
Mantra Sastra ini Kum?”
“Aku ragu, sebab itu adalah perjalanan spiritual seorang kyai.”
“Aku yakin, buku ini ditulis untuk memberi pelajaran pula pada kita
semua.”
“Sebenarnya aku belum membaca buku itu Tar, makanya aku tak bisa
banyak komentar. Hehehe.”
“Aku pulang dululah, nanti malam kita lanjut lagi.”
Nganjuk, 4 Mei 2022
(Pernah diterbitkan di ideide.id pada 14 Juni 2022)

Komentar
Posting Komentar