HADIAH ULANG TAHUNMU


 

“Selamat ulang tahun.”

“Apa kabar?”

“Semoga di usiamu yang ke-22 ini, kamu bahagia selalu.”

“Rawatlah selalu senyum indahmu itu ya!”

Sederet ucapan spesial di hari ulang tahunnya itu, kukirimkan tepat pukul 00.01 WIB. Tepat di tanggal 21 Januari tahun ini kamu genap berusia dua puluh dua tahun. Maaf, mungkin aku salah menebak, tentu kalaupun tebakanku meleset, mungkin usiamu satu tahun lebih muda atau lebih tua barangkali. Ah, maafkan aku menyebutkan kata tua. Mungkin itu satu hal yang sangat kurang enak di dengar, termasuk oleh seorang gadis sepertimu jika disebut tua, atau mungkin juga kebanyakan orang seperti itu.

Tapi yang harus kamu tahu sebelum marah padaku. Antara takut dan penuh harap, aku benar-benar ingin mengucapkan selamat ulang tahun di hari bahagiamu ini. Aku tak benar-benar menunggumu membalas pesanku ini. Seperti biasanya mungkin aku hanya bisa berharap suatu saat kamu sudi membalas pesanku ini.

Sengaja lewat SMS aku mengirimkan pesan ini untukmu. Kamu pasti masih ingat. Sekitar tiga bulan yang lalu kamu memutuskan untuk memblokir nomor whatsapp, akun Isntagram, bahkan di FB pun kamu tak menanggapi permintaan pertemananku. Dari pesan yang kutulis ini aku berharap kamu sudi untuk sekadar membacanya, lalu mengamini doa yang tulus ini.

Sedangkan aku di sini sendiri, menikmati malam yang ditemani rintik rindu yang sungguh sahdu, lengkap dengan bayanganmu. Membayangkanmu sedang duduk di sebuah kedai kopi bersamaku, lengkap dengan sepasang senyum dari  kita—orang yang saling berbahagia. Saling berbagi cerita.

***

“Maaf membuatmu menunggu lama ya.” Katamu malam itu. Sambil berdiri di depanku, lalu mengulurkan tangan indahmu lengkap dengan senyum indahmu pula.

“Santai saja, aku datang dengan suka cinta kok di sini. Menunggumu agak lama tak jadi masalah untukku.” dalam hati aku mengingat-ingat peristiwa yang terjadi tiga tahun yang lalu, saat pertama kali aku melihat senyummu. Senyum yang sama itu, kini ada di depanku.

“Ini pertama kalinya kita duduk berdua di kedai kopi ya?” pertanyaan macam apa kataku dalam hati. Karena sorot matamu yang tajam, pula mendamaikan itu, aku tak kuasa berucap ceplas-ceplos seperti biasanya. Jujur aku sangat canggung. Andaikan kamu tahu pasti kamu akan tertawa melihat kakiku gemetar hebat dan jantungku berdegup cepat-cepat. Sedangkan telapak tanganku berkeringat dingin.

“Pertama kali? Kamu nggak salah?” aku justru membalas tanyamu dengan tanya malam itu.

“Iyalah, aku juga baru tahu kedai kopi ini.”

“Hehe kamu belum pernah tahu ya, aku sering mengajak senyummu bersamaku, menemaniku minum kopi di sini. Maaf tak meminta izin padamu.”

Tentu sejurus kata-kataku itu justru membuatku khawatir. Aku takut kamu malah marah dengan kelancanganku. Diam-diam menyimpan senyum indah yang pernah kamu kirim untukku. Lagi-lagi tentang peristiwa yang terjadi tiga tahun yang lalu. Aku sengaja membawanya dan beberapa kali aku juga mencuri senyummu di unggahan isntagram milikmu. Tentu itu sebelum kejadian pemblokiran akun instagram milikku olehmu. Aku selalu sedih mengingatnya. Aku yang mencoba mengenalmu, tapi harus kehilangan salah satu jalan untuk menujumu.

Tapi malam ini aku bersyukur bisa duduk di kedai kopi ini bersamamu. Semoga ini bukan mimpi. Sebab seindah apa pun itu, jika hanya mimpi, aku hanya akan tenggelam dalam sebuah kebahagiaan yang sebatas di dunia khayali saja.

***

Tiba-tiba kamu menanyakan satu hal yang tak pernah kuduga. Kamu justru menanyakan perihal novelku yang baru terbit Desember tahun lalu.

“Bolehkah aku baca novelnya?”

“Novel apa?” aku mencoba berpura-pura.

“Novel yang kamu beri judul Rama. Itu mirip dengan namaku bukan?”

malam ini kamu benar-benar membuatku mati kutu. Belum kering keringat dingin di telapak tanganku. Bahkan bulirnya pun kini justru mulai berjatuhan dari keningku. Aku harus termangu dengan tanyamu itu.

“Novel itu ada di kontrakan. Jauh dari kota” kataku sambil menyeruput kopi. Bukan hanya bulir keringat yang tampak saling berebut udara bebas di celah kulit keningku kini. Aku juga membayangkan wajahku tiba-tiba pucat. Jelas tampak seperti orang yang kaget dan salah tingkah.

“Nanti kita ambil ya? Aku ingin membacanya.” Katamu terlihat puas menatapku yang tampak kikuk.

“Kenapa gugup begitu? Takut aku marah? Aku hanya penasaran dengan isinya.” Kamu melanjutkan pembicaraan tentang novel Rama itu lagi. Kali ini kamu ingin tahu isinya. Kamu juga menduga-duga aku sengaja membuat novel itu untuk dihadiahkan untukmu.

Antara menyesal dan bersyukur malam itu aku bisa duduk berdua denganmu di kedai kopi. Tapi aku benar-benar belum siap untuk memberi tahumu tentang novel Rama yang kuterbitkan hanya dua buku saja. Dua buku itu masih kusimpan rapat di tumpukan buku di kamar kontrakan. Rencananya kukasihkan padamu di hari ulang tahunmu. Bukan sebagai kado tentunya, tapi sebagai isyarat rasa yang kamu semai lewat senyum indahmu. Iya, aku merawat dan membesarkan rasa itu.

“Kenapa kamu diam saja? Aku tak boleh baca novelnya ya?” Tanyamu memecahkan lamunanku. Pasti kamu merasakan gelagat tak wajar dariku. Rona wajahku pasti sudah tertebak olehmu.

“Bukan begitu maksudku, kapan-kapan akan kubawakan untukmu.”

“Nanti saja sepulang dari ngopi kita ambil di kontrakanmu.” Aduh kenapa kamu begitu ngotot malam ini. Kamu harus tahu aku sudah merencanakan itu untuk hari ulang tahunmu.

 Hey... Kenapa sih ngelamun terus?”

“Maaf, aku...”

“Sudahlah jangan begitu sungkannya padaku, aku senang kok bisa berdua denganmu malam ini.” Mendengarnya, aku serasa disambar petir yang begitu panas. Aku terheran-heran dengan kata-katanya. Kamu harus tahu, tak harus secepat ini kamu membuatku bahagia. Kamu juga harus tahu, sudah sekian purnama aku membayangkan bisa duduk berdua denganmu seperti ini. Menikmati kopi dengan bicara banyak hal tentang apa pun.

“Begini saja, hari Rabu kita ngopi di sini lagi, nanti kubawakan novelnya untukmu.”

Ok.” Jawabmu dengan ceria. Pasti kamu merasa menang dan puas malam itu. Sedangkan aku masih saja memikirkan dari mana kamu tahu tentang novelku itu.

“Aku sangat bahagia malam ini.” Kataku memecah kekakuan setelah membahas novel Rama.

“Aku tahu.” Jawabmu singkat.

“Maksudmu?” tanyaku lagi padamu yang malam ini duduk dengan anggun lengkap dengan senyummu yang indah.

“Aku juga boleh tahu kan alasanmu mengajakku minum kopi malam ini?” dengan mata berbinar kamu ungkapkan rasa ingin tahumu padaku.

“Aku...” entah kenapa aku sulit menjawabnya malam itu. Pertanyaanmu sangat sulit kutemukan jawabannya. Padahal hati dan isi kepalaku seolah penuh keyakinan punya jawaban yang pasti untuk pertanyaan itu. Sebab jelas-jelas aku punya alasan kuat mengajakmu minum kopi seperti malam ini.

***

“Mas boleh saya ambil mangkok kosongnya?” tanya seorang pelayan di kedai malam ini.

“Oh, iya mas, silakan, lagian mi gorengnya sudah habis.”

“Mas-mas, boleh minta asbaknya ya?” Pintaku pada seorang pelayan yang sangat ramah itu. Aku belum pernah bekerja di sebuah kedai kopi, tapi kujamin orang ini sangat ramah seperti teman-temanku yang juga bekerja di kedai kopi. Selain mereka melakukan itu demi memberikan pelayanan yang terbaik, mereka memang memiliki jiwa pengopi. Tidak lain adalah memiliki jiwa dengan tingkat keramahan yang tinggi.

Kedatangan pelayan itu seketika membuyarkan lamunanku. “Ahh untung hanya lamunanku saja.” Gumamku sendiri sambil mengusap wajahku kuat-kuat. Berharap kesadaranku pulih sepenuhnya. Kutengok jam dinding itu sudah hampir pukul 03.00 WIB, sudah waktunya aku balik ke kontrakan. Tapi kaki, juga hatiku sepertinya masih ingin menikmati suasana dini hari yang hening di kedai kopi ini.

Kuputuskan untuk menyulut rokok, sebatang saja baru pulang pikirku.

Usai menandaskan kopi hitam yang ada di depanku. Sebatang rokok yang terasa nikmat dengan suasana hikmat. Aku tak pernah menyangka akan melamunkanmu begitu lama. Bahkan sampai detik ini, kamu juga belum membalas pesan-pesanku. Kamu seharusnya tahu, setiap hari aku selalu memeriksa kabar pesan-pesanku itu. Tiada harapan selain kamu membalasnya.

Kamu juga harus tahu, aku masih belum putus asa. Kamu juga harus tahu kamu telah menjadi sumber inspirasiku. Seandainya kamu tahu, novel yang telah kuterbitkan itu sebenarnya ingin kuberikan untukmu, di hari ulang tahunmu ini. Tapi sayang, yang datang bukan wujud nyatamu yang menghampiriku minum kopi di kedai ini. Tapi hanya bayanganmu saja.

“Mas sudah mau tutup.” Kata pelayan yang tadi memberiku asbak.

“Eh iya mas.”

“Santai mas, kalau mau tidur di sini juga tidak apa-apa kok.” Pelayan itu menjawab dengan suara yang berbeda dengan sebelumnya. Lalu kusibakkan rabut panjangku dan mencoba melihatnya.

“Ah sial, ternyata kamu bro. Sejak kapan di Malang?” tanyaku sedikit keheranan.

“Kamu ini bagaimana, aku yang punya kedai ini.”

Beneran?”

“Iya, kedai ini punyaku. Sudah dua tahun aku mendirikannya bersama kawan-kawan pejalan.”

“Kok aku tidak pernah melihatmu di sini. Setahuku kedai ini milik kawan-kawan gerakan penghijauan.”

“Aku baru menyelesaikan kuliah S2 di Jogja bro makanya kamu tak pernah melihatku di sini. Maklum aku ikut membantu dari jauh. Tapi mulai hari ini aku akan tinggal di sini sekalian mau mengajar di Sekolah Alam rintisan kawan-kawan juga.”

Keren bro.”

“Kamu sibuk apa?”

“Biasa aku masih menulis cerpen dan jualan buku-buku sastra.”

“Kamu masih menggunakan senyum indah itu sebagai sumber inspirasimu bro?”

“Mau bagaimana lagi bro. Senyum yang kucuri tiga tahun lalu sangat spesial bagiku.”

“Parah, seharusnya kamu segera bertemu dengannya.”

Seperti inilah kalau bertemu kawan lama. Obrolanku dengan Danu si pemilik kedai kopi ini berlangsung lama. Aku mengurungkan niatku untuk pulang. Ngobrol sampai pagi. Bagiku, begadang sampai pagi tentu tak jadi masalah.

Bahkan Danu pun mengajakku sarapan di Mak Par yang legendaris di kota Malang. Aku yang tak suka pedas, tetap menyambut baik ajakannya itu. Pagi ini pun usai sarapan, aku memilih tidur di kedai kopi saja dengannya. Siapa tahu di kedai kopi ini aku bisa memimpikan dia lagi, si pemilik senyum indah. Dan bangun dari tidur semoga benar-benar kudapati dia duduk di kedai kopi ini.

“Sudah jangan banyak berkhayal! Cepat tidur!” sergah Danu.

Aku membuka tas kecil yang ada di sampingku. Mematikan hape dan mengabaikan Danu yang tiba-tiba saja sudah terlelap. Sedangkan aku masih saja terjaga. Mata memang berat tapi suasana hatiku masih riuh penuh dengan harap. Kuambil dua novel yang baru terbit bulan lalu, sambil dalam hati bergumam. “Seharusnya tadi malam kamu benar-benar duduk di kedai ini denganku. Lalu kukasihkan novel Rama ini untukmu sebagai hadiah ulang tahunmu.”

Nganjuk, Januari 2020

(Pernah diterbitkan di Radar Kediri pada 15 Mei 2022)

Komentar

  1. Gaya ceritanya 'flat' khas cerpen koran. Atmosfernya membawa ingatan jaman-jaman muda ikut gerakan atau komunitas non profit.

    Itu kata 'kukasihkan' apa ndak sebaiknya diganti 'kuberikan'?

    BalasHapus
  2. terima kasih masukannya poppy, nanti kubaca-baca lagi

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer