MENOLAK TUA
TUA, kata mereka aku sudah tua. Tapi sebagian
dari mereka bilang aku masih muda. Sebagian yang lain lagi punya pendapat yang
jauh lebih menghibur, menyakitkan, bahkan ada yang sangat percaya padaku.
Apa aku perlu memihak salah satunya?
Tak penting kataku pagi ini, sebab ia tak benar-benar mau
bertanggung jawab dengan apa yang ia katakan padaku. Baik itu yang menghibur,
menyakitkan, atau percaya padaku. Selebihnya hanya aku yang harus menjalaninya.
Bagaimana jika aku kalah?
Seperinya juga akan muncul tawa yang meremehkan, tapi juga akan ada
suatu yang tak terduga. Seperti dukungan yang tiada henti. Jadi jika kalah,
sepertinya yang bertanggung jawab juga aku.
Jika Menang?
Sepertinya juga akan muncul mereka yang meremehkan, juga ada yang
bahagia. Aku yakin ada yang sangat bangga. Tapi itu semua, juga aku yang harus
bertanggung jawab.
Lalu?
Semuanya itu adalah bagian hidup. Pilihan terbaik bukanlah sebuah
titik. Tapi pilihan terbaik adalah sebuah langkah yang tiada henti. Sebab selama
masih hidup, alur kehidupan kita sendiri tetap menjadi tanggung jawab kita
sendiri. Tak peduli tua atau masih muda, tetap saja tanggung jawab beriringan
dengan setiap napas yang kita hembuskan.
Lalu setiap napas yang kita hembuskan dipertanggung jawabkan ketika
napas berhenti. Itu pun bukan rahasia lagi. Tapi jangan lupa kalau aku juga pernah
diingatkan. Bahwa segala sesuatunya bukan soal hitung-hitungan, melainkan ada
kekuatan besar yang ada untuk menghendaki atau tidak menghendaki.
Komentar
Posting Komentar