DESEMBER, RUANG KOPI, DAN HUJAN PAGI
MENYALAHKAN, atau membeci
sesuatu yang sudah terjadi adalah manusiawi. Namun menjadi tidak manusiawi jika
tak menemukan sama sekali dari sekian peristiwa yang sudah terjadi itu, sebuah
peristiwa yang mengesankan hati.
Di bulan Desember ini yang justru muncul adalah gambaran untuk
mengawali sebuah hal penting yang tak bisa ditunda lagi. Berharap ini jadi
tonggak yang nyata untuk sebuah perjalanan yang kuharap bernapas panjang.
Munculnya secara tak sengaja, ketika riuh kepala dipenuhi dengan
kegelisahan yang sebetulnya berdasar. Namun akhirnya kuputuskan untuk berusaha
sekuat tenaga menganggap ini akan baik-baik saja. Solusinya akan datang jika
aku mengalaminya. Tidak ada menang atau kalah, yang ada, dan yang perlu
kulakukan adalah pertarungan yang nyata. Yang tidak mengandalkan siapa pun
kecuali Tuhanku dan aku sendiri. Serta jalan yang baik-baik saja berkat
kebaikan orang tuaku. Aku selalu percaya energi baik itu bisa datang dari
kebaikan-kebaikan orang lain, pun sebaliknya, energi yang tak baik juga bisa
menghampiri. Namun keduanya sama-sama bisa diolah. Dan jika berbicara hasil,
tentu itu bukan sebuah hak seorang individu lagi, melainkan sebuah hal lain dan
itu pasti.
***
Aku tidak merencanakan untuk menyusuri ruang kopi lagi. Tapi
kenyataan memang begini adanya. Ruang kopi itu memanggil-manggilku dari
kedalaman hati. Ia tampak jauh secara kasat mata. Namun suasananya tampak dekat
dan aku merindukannya. Cukup satu atau dua kali untuk menyembuhkan dahaga,
namun ternyata tak cukup satu atau dua kali untuk melanjutkan langkah yang
sudah kumulai.
Setiap kali datang, perasaan itu muncul lagi. Ia memunculkan
rencana baru. Termasuk hari ini, langkah pertama dari rencana yang tak kutulis
di daftar perencanaan itu berhasil kulakukan.
Jangan buru-buru bertanya aku sedang merencanakan apa. Terkadang
sebuah perencanaan memang lebih baik tak disampaikan. Tapi ketika perencanaan
tak disampaikan pada orang lain, aku lebih banyak tak melanjutkan perencanaan
itu. lalu? Iya aku tetap saja memilih untuk tak memberi tahu kalian. Yang
paling penting aku menikmati untuk berencana kali ini. Satu langkah yang
barusan terjadi, itu belum bisa dikatakan terealisasi, intinya tetap harus
lanjuuuuuuutttttt.
***
Seperti hujan pagi, ia berbeda, bukan karena ini bulan desember.
Tapi bagiku, ia berbeda dengan hujan dikala senja. Intinya, rencana ini,
kuharap dan ingin kupastikan untuk terjadi nantinya. Aamiiinnn.... Bismillah....
Komentar
Posting Komentar