MENGAWALI TAHUN BARU DENGAN BUKU BARU

SEJUJURNYA aku tak mengawali tahun baru 2022 ini dengan resolusi-resolusi yang muluk-muluk—lebih tepatnya aku tak menyampaikan pada siapa pun tentang apa yang aku impikan (resolusikan). Mimpi dan rencanaku tentang bagaimana aku akan menapaki lajur hidup di tahun ini hanya kusampaikan pada diriku sendiri seperti di tahun sebelum-sebelumnya.

Sebab sebelum-sebelumnya juga, apa yang kurencanakan biasanya kalah atau tenggelam dengan rencana-rencana yang datang tanpa dugaan. Dan akhirnya aku pun sadar kalau bikin resolusi gak perlu juga nunggu tiap momen tahun baru. Seperti yang dikatakan oleh Nosstress dalam salah satu judul lagunya “Tahun Baru Lagi.” Namun lagi-lagi perlu kusampaikan kalau di tahun baru pun tak menutup kemungkinan untuk siapa pun membuat sebuah resolusi untuk kehidupannya masing-masing.

Tapi aku masih ingat satu hal yang pernah kudengar dari seseorang, jika keberuntungan hanya bisa disebut sebagai keberuntungan jika kesempatan itu datang tepat, dengan kesiapan. Maka dari itu tiada pilihan lain dalam menapaki dan mengawali tahun baru ini dengan melanjutkan atau memulai lagi sebuah proses dan tujuan yang kupilih secara sadar. Agar nanti jika kesempatan itu datang aku bisa benar-benar siap dan mengubahnya menjadi sebuah keberuntungan.

Terlepas dari sesuatu yang kusebut keberuntungan tadi. Sampai saat ini aku masih berusaha menikmati sebuah proses membaca dan menulis. Bahkan aku sangat yakin dan sadar kalau kemampuanku membaca masih sangat kurang atau selalu tidak sempurna. Itu tampak dengan adanya hal-hal yang harus kubaca berkali-kali supaya aku berhasil memahami isinya. Dan kemampuan membaca ini sangat penting untuk menunjang keinginanku agar bisa menulis. Oleh karenanya di tahun baru ini aku juga harus turut melanjutkan proses belajar juga menulisku ini.

Di tengah proses belajar membaca dan menulis itu, aku juga masih menikmati media sosial instagram. Tentu saja berselancar di instagram ada baik dan buruknya. Mungkin baiknya banyak, tapi aku ingin mengingatkan diriku sendiri kalau buruknya adalah aku bisa melepaskan bacaanku (buku) dan juga proses menulisku, dan tenggelam dalam dunia maya itu. Dan dari kebiasaan buruk itu—seringnya aku tenggelam itu, aku melihat seorang yang sangat produktif menampilkan karya-karyanya di instagram. Dia adalah Pak Yuditeha dari Karanganyar Jawa Tengah.

Awal tahu namanya adalah saat aku mulai masuk sebuah grub whatsapp yang berisi informasi pemuatan karya yang dikirim oleh seorang penulis pada sebuah media, entah media online maupun media cetak. Tentu saja aku juga menunggu namaku masuk dalam informasi yang ditunggu-tunggu oleh banyak penulis itu. Namun aku belum berhasil menikmati itu. Aku belum menyerah, dan aku masih menulis sampai sekarang. Alih-alih tak menyimak, aku masih saja menyimak meskipun aku tahu, aku tak mengirim sebuah karya pekan itu. lalu, kudapati namanya sering muncul sebagai penulis yang karyanya dimuat oleh banyak media.

Dari situ aku mencarinya di instagram, sebagai seorang yang juga menggunakan instagram aku melihatnya sangat aktif juga di instagram. Antusiasku kemudian muncul lagi karena seorang teman yang juga pernah menampilkan sebuah buku berjudul “Sejarah Nyeri” di cerita whasappnya. Ditambah lagi, di instagram aku melihat kenyataan yang mengejutkan, bahwa karyanya sangat banyak. Buku kumpulan cerpen dan puisi, juga novelnya keseluruhan sekitar 18 buku sudah berhasil diterbitkan.

Tak hanya itu, di tahun baru ini aku melihat buku barunya muncul di berandaku. Alih-alih ingin membeli buku barunya itu, aku justru kepikiran membeli buku kumpulan cerpennya yang berjudul “Sejarah Nyeri” karena buku inilah awal aku mulai tahu tentang sosoknya. Sebenarnya aku juga ingin memiliki buku barunya, tapi alangkah lebih menyenangkan jika aku bisa memiliki “Sejarah Nyeri” terlebih dulu. Hehe

Dari keinginan itu, keberuntungan benar-benar datang. Awal tahun ini aku mendapatkan kesempatan untuk membeli buku “Sejarah Nyeri.” Akhirnya kuhubungilah Pak Yuditeha melalui pesan langsung di instagram.

Berutungnya lagi, aku mendapatkan bonus satu buku kumpulan puisinya yang terbaru “Perempuan-Perempuan Venus.”

Dan beruntungnya lagi, dari situ aku mulai berkenalan dengan karya sekaligus penulisnya. Ketika buku sudah sampai di tanganku. Aku langsung membacanya. Dan ketika aku menulis tulisan ini. Aku baru saja menyelesaikan membaca buku kumpulan cerpennya yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Jawa oleh Balai Bahasa Jawa Tengah, yaitu buku kumpulan cerpennya yang berjudul “Tanah Letung.” Sebuah buku yang isinya merupakan cerpen-cerpen yang berhasil menjadi juara di berbagai sayembara menulis cerpen.

Detik ini pula aku mulai melirik untuk membaca buku selanjutnya, “Sejarah Nyeri, Tiga Langkah Mati, atau Perempuan-Perempuan Venus?” tapi sebelum aku meraih salah satu dari buku itu, aku ingin menyelesaikan tulisan ini dulu. hehe

Komentar

Postingan Populer