HUJAN AKHIR TAHUN
AKHIR atau awal sebetulnya sebuah hal yang saling berkaitan, dan tak semestinya diperdebatkan perbedaannya apalagi diperselisihkan untuk sebuah hal yang menjadikannya justru terhenti. Maksudku, bukan berarti dua hal ini bisa begitu saja diabaikan tapi juga tak bisa sepenuhnya dijadikan sebagai acuan. Bukan juga mempermasalahkan yang menjadikannya sebuah patokan. Tapi aku hanya ingin mengingatkan diriku sendiri, bahwa setiap detik, setiap saat, itu adalah sebuah kesempatan yang sama, yang tak bisa diulang sama sekali.
Dan sore ini, adalah akhir tahun 2021. Dan dini hari nanti sudah
memasuki tahun 2022. Sekali lagi, aku hanya ingin mengingatkan diriku sendiri. Tentang
awal dan akhir tahun sebagai momen untuk mengingat sekaligus merencanakan suatu
hal lain yang perlu diperbaiki ataupun hal lain yang baru.
Ditemani sisa tetes air hujan dari genting, dari daun-daun, sebagai
tanda kalau hujan baru saja reda. Juga sisa gemuruh suara guntur yang masih
sesekali terdengar. Sore ini aku ingin menulis. Judulnya Hujan Akhir Tahun,
biar yang membaca ini juga tahu kalau saat aku menulis tulisan ini, sedang
hujan dan tepat di akhir tahun 2021.
Lalu, apa isi dan maksud dari menulis dengan judul seperti itu?
Di atas sudah kusebutkan kalau aku ingin mengingatkan diriku
sendiri.
Mengingatkan tentang apa?
Banyak hal tentunya. Tapi yang paling inti adalah menulis. Aku tak
tahu tepatnya kapan aku mulai menulis. Tapi aku ingat pada suatu momen di mana
aku berada di antara orang-orang yang tak pernah mengeluh pada suatu keadaan
apapun. Melainkan keluh kesahnya hanya karena ia belum juga berhasil
menyelesaikan tulisannya (karyanya). Itu kira-kira tahun 2019. Dan tepatnya di mana
lokasinya, kapan, aku juga lupa (sengaja tak menyebutkannya). Hehe.
Tapi sejak saat itu, aku menulis. Sedikit atau banyak? Yang jelas
aku masih menulis. Meskipun aku masih berkeluh kesah pada banyak hal. Paling
tidak, sejak saat itu aku masih berada di antara baris kata-kata. Entah sebagai
apa. Buktinya, kalau ditanya kesibukan dan kerjanya apa? Aku masih bingung
menjawabnya. Haha. Dan aku juga tak mau menjawab dengan jumawa, bahwa aku
menulis. Sebab aku tahu, penulis itu bukan hanya sebutan.
Aku tahu ini hal serius atau hal yang tak bisa kuabaikan. Mengingat
usia hanyalah deretan angka, dan kesempatan akan muncul selamanya. Tapi kesempatan
itu tak akan pernah menjadi keberuntungan jika aku masih belum siap bertemu
dengan kesempatan itu.
Jadi inti tulisan ini?
Kan sudah kubilang, aku mengingatkan diriku sendiri.
Selain itu, hujan yang konon membawa kenangan ini. Mengingatkanku pada
sebuah nama yang tak sengaja kusakiti. Dan aku ingin bisa segera meminta maaf
padanya. Jika kalian membaca sampai di sini., percayalah aku sedang berusaha.
Lalu apa tujuanmu mengingatkan dirimu sendiri di akhir tahun 2021?
Ya karena masih banyak hal yang belum kuselami dan jauh dari dikatakan
siap atau ahli dalam dunia kata-kata. Aku ingin menyiapkannya lebih baik di
tahun 2022. Lalu tentang sebuah nama tadi, aku ingin segera bertemu dan bisa
leluasa bercanda bersamanya.
Karena tetes air di atas daun, sisa air hujan sudah tandas semua. Ditambah
gelap karena mendung dan juga karena matahari secara resmi membenamkan diri dalam
senja. Aku ingin menutup tulisan pendek ini. Entah mana inti, mana isi, yang
jelas aku ingin mengawali tahun 2022 dengan melatih imajinasi sekaligus
melenturkan jari jemari menapaki papan huruf-huruf yang ada di depanku ini. Tak
lupa kalau semua ini terselip kenyataan di dalamnya, pula sebuah olah imajinasi
yang kuracik sedemikian rupa. Maka dari itu bungkusnya adalah fiksi. Semoga pesan
ini sampai padaku yang tengah mengingatkan diriku sendiri.
#Jumat. Sore hari. Sedang hujan. Hujan reda. 31 Desember 2021
Sippppppp lanjutkan membaca menulis karakter yang g bisa di gapai tanpa kesadaran diri🤗
BalasHapussippppp terima kasih, semoga selalu diberi kesadaran diri dalam menapaki jalan meraih mimpi
BalasHapus