Novel Sebuah Surau
MEMASUKI pengujung tahun kedua, tahun yang dipenuhi dengan wabah ini, aku menjadi seorang yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk berangan-angan. Salah satu anganku adalah menuliskan sebuah cerita singkat tentang bagaimana aku mendapatkan sebuah buku. Hanya cerita tentang bagaimana aku mendapatkan buku itu, bukan bercerita tentang isinya.
Angan itu muncul mungkin hampir bersamaan dengan awal mula wabah ini ramai diperbincangkan. Namun baru detik ini, di mana aku duduk sendiri di depan laptop ditemani alunan lagu dari Silampukau, aku memutuskan untuk mewujudkan salah satu anganku itu. Aku akan menulis sebuah perjalanan singkat tentang bagaimana aku mendapatkan sebuah buku yang berjudul Sebuah Surau.
Sebuah Surau merupakan salah satu dari tiga novel terbaik perihal Kanjeng Nabi Muhammad SAW. dalam sayembara novel yang dikhususkan untuk memperingati Maulid Nabi SAW. tahun 2021 ini. Tepatnya novel Sebuah Surau merupakan novel yang menjadi juara tiga.
Ketika itu, diberanda instagram juga facebookku muncul gambar sampul dari tiga novel terbaik itu. Juara pertama novel itu sampulnya berwarna ungu, juara kedua sampulnya berwana orange dan juara ketiga berwarana hijau, yaitu novel Sebuah Surau. Aku sejujurnya ingin memiliki ketiga-tiganya. Tapi karena kantongku hanya berisi cukup untuk satu novel saja, maka kupilih novel Sebuah Surau untuk kupinang.
Sebelum memutuskan untuk meminang novel Sebuah Surau aku tertarik untuk meminang novel Kayu Lapuk yang bersampul ungu itu. Mengingat aku tahu penulisnya, seorang yang tak asing lagi di dunia ini. Aku punya dan pernah membaca buku kumpulan cerpennya. Tapi urung juga untuk meminangnya. Aku bertemu dengan novel dengan sampul berwarna orange, judulnya Dunia Kecil yang Riuh, aku pun ingin meminangnya, mengingat penulisnya juga seorang yang tak asing juga di dunia ini. Namun aku juga urung meminangnya.
Sampailah pertemuanku dengan novel Sebuah Surau dengan sampul warna hijau ini. Aku beberapa kali mendengar nama penulisnya. Dan kurasa tak asing juga namanya. Tapi bukan karena penulisnya. Aku lebih memilih novel ini karena judulnya. Yaitu Sebuah Surau. Aku merasa harus membaca novel ini.
Persinggunganku dengan surau mungkin sedikit, tapi aku juga punya kisah sedikit tentang surau. Sehingga aku merasa perlu dan hatiku langsung memutuskan untuk meminang novel Sebuah Surau ini. Aku ingin tahu bagaimana seorang Artie Ahmad menceritakan sebuah surau. Aku juga ingin tahu bagaimana ia menyisipkan perihal Kanjeng Nabi di dalamnya.
Keputusanku bulat, kukirim pesan di facebook untuk seorang Artie Ahmad. Ia membalasnya dengan baik. Lalu kuminta nomor WA agar lebih mudah berkomunikasi. Singkatnya keinginanku untuk meminang novel Sebuah Surau akhirnya terwujud. Meskipun waktu itu karena sakit, setelah sepakat untuk membeli, aku belum bisa menyelesaikan persoalan biaya. Nunggu sembuh baru bisa menuntaskannya. Dan novel Sebuah Surau pun dikirim dari kota Artie Ahmad menuju Nganjuk keesokan harinya. Dan sampai setelah sekitar tiga hari menempuh perjalanan.
Aku menunggunya. Spesialnya, aku pun punya permintaan khusus pada seorang Artie Ahmad, aku ingin ia menandatangani novelnya. Sejujurnya aku jarang meminta tanda tangan pada penulis, tapi yang ini rasanya perlu. Dan kurasa novel ini menjadi salah satu dari sekitar empat bukuku yang bertanda tangan. Mungkin nantinya akan bertambah lagi, karena itu juga satu hal yang rasanya punya kebahagiaan tersendiri jika aku bisa memujudkannya.
Mungkin sedikit cerita tentang buku ini bisa menjadikanku bahagia karena yang awalnya hanya angan, akhirnya aku bisa menuntaskannya. Untuk selanjutnya aku ingin juga menulis tentang pengalamanku membaca novel Sebuah Surau. Novel yang berhasil kuselesaikan selama tujuh hari di tengah kesibukannku berangan-angan.
Komentar
Posting Komentar