SESUATU YANG DIRENCANAKAN DAN TAK DIRENCANAKAN
“PERJALANAN itu sesuatu kurencanakan. Menuju sebuah pondok kayu dengan ragam aktivitas yang nantinya serba baru untukku. Tempat yang ada dalam anganku itu kutemukan disebuah lembah maya yang sering kudatangi selama ini. Jika ada kalanya aku mengutuk lembah maya itu, tapi ada kalanya: bahkan sering aku justru memanfaatkan lembah maya itu untuk menjadikan sesuatu sedikit lebih terang.
Pertemuanku memang bukan sebuah kesengajaan. Tapi pencarianku
adalah sebuah kesengajaan. Aku ingin pergi ke sebuah tempat untuk melakukan
sesuatu yang lain, baru, dan siapa tahu itu akan lebih menghidupkanku.
***
Di tengah usahaku membuat perencanaan, seperti yang telah
dibuktikan perempuan itu padaku—menjadikannya seorang dengan kualitas karya
yang luar biasa. Energi, juga daya tahannya berkarya sangat memukau.
Melihat itu semua, aku juga ingin melakukan hal yang sama. Tentu
harus melalui sebuah proses, yang isinya tahapan demi tahapan.
***
“Kamu ingat yang kamu lakukan dua tahun yang lalu, yang akan kamu
sebut sebagai sebuah perjalanan yang kamu rencanakan ini?”
Tiba-tiba saja bisikan itu datang. Aku tak memintanya. Suara itu
milik perempuan itu—perempuan yang selalu bercerita banyak hal padaku.
“Aku ingat, sedikit. Mungkin maksudmu sebuah perjalanan yang akan
kutuliskan ini kan?”
“Iya, sebaiknya jangan terlalu banyak menuliskan kebanggaan atas
perjalananmu itu. Cukup intinya saja!”
“Apa intinya?”
“Tentu saja hanya kamu yang tahu.”
***
Kubuka beberapa kenangan tentang perjalanan itu. Ada beberapa arsip
foto yang kusimpan rapi. Termasuk beberapa cerita yang sudah tertulis dan belum
kutulis. Lalu, arah pandangku tertuju pada sebuah foto.
***
Di sebuah sore, yang masih diterangi silau sinar mentari. Aku
membidik sekenanya saja sebuah tempat. Waktu itu aku hanya ingin memberi tahu
seseorang, bahwa aku sedang ada di situ. Iya, seseorang itu sedang menjemputku.
“Mbak, ini stasiun Lempuyangan?”
“Tugu mas.”
“Owh, nggeh terima kasih mbak.”
Rencanaku turun di stasiun yang disarankan oleh seorang yang
kutemukan di lembah maya itu tak terjadi. Aku justru turun di stasiun Tugu yang
di depannya justru tertulis Stasiun Yogyakarta. Seharusnya aku turun di Stasiun
Lempuyangan. Di situ pengetahuan baruku bertambah. Sesederhana itu, aku justru
bersyukur tahu akan hal itu. jadi, untuk perjalanan yang sama di lain hari,
bisa dipastikan aku sudah tahu apa yang harus kulakukan.
“Aku sudah di depan stasiun mas?”
Pesan singkat dari sebuah nomor yang tak kukenal itu muncul. Jadi,
yang tadi aku melihat tulisan Stasiun Tugu itu adalah pintu keluar. Aku harus
mencari pintu masuk stasiun atau bagian depan stasiun.
“Permisi mas, ini kami menawarkan sebuah paket makanan.”
“Makanan apa ya mbak?”
“Ini mas, jadi ini nanti kalau mas membeli makanan ini, mas kami
masukkan sebagai seorang yang telah berdonasi membantu kegiatan kami yang
bertajuk berbagi kebahagiaan. Hasil penjualan kami ini, sebagian akan kami
donasikan.”
“Iya mbak, coba saya lihat dulu.”
Setelah kubaca sekilas, aku mengurungkan niatku. Awalnya aku akan
membelinya jika harga yang ada sesuai yang kuperkirakan.
“Maaf mbak, saya belum bisa.”
“Kenapa mas?”
“Uang saya nipis. He he”
“Iya mas, ndak apa-apa. Terima kasih. Masnya baru ya di Jogja?”
“Iya mbak, ini baru sampai.”
Aku melihat beberapa orang berjalan ke sisi kiri dari pintu keluar
stasiun. Menyusuri trotoar, entah jalan kemana. Beberapa yang lain, menunggu
ojek online menjemput mereka di pinggir jalan, yang akhirnya aku tahu,
itu jalan di depan pasar kembang yang terkenal itu.
Aku menyusuri trotoar itu. Di belakang orang-orang yang satu
persatu habis karena telah dijemput oleh teman, pacar, keluarga juga ojek online.
Sampailah aku di sebuah perempatan. Ada beberapa rel yang melintang. Di sisi
kirinya aku melihat sebuah warung kopi yang bangunannya khas jawa. Ahh, itu
indah sekali, sekali lagi aku tak menyesal berjalan sejauh ini.
“Aku di sini mas.” Sebuah foto masuk di gawaiku, dari nomor yang
seorang yang akan menjemputku.
“Iya mas, aku jalan ke sana.”
Padahal aku belum tahu itu di mana. Dan aku hanya berjalan saja.
Sampai akhirnya kukirimkan sebuah foto yang kubidik sekenanya saja.
“Aku di sini mas.”
Tak kunjung mendapat balasan. Aku berjalan terus menyusuri trotoar di
sisi sebuah aspal yang di tengah, sisi kanan, kiri terdapat rel keretanya.
Akhrinya aku tahu, ini jalan masuk stasiun.
Kulihat seorang dengan motor model suzuki lama. Ia bersarung. Dan
aku tahu, itu adalah orang yang kucari.
“Mas, saya muhamin.”
“Ohh, iya mas. Saya Ripin dari Kutub.”
***
“Aku sudah bilang intinya saja, jangan terlalu berbelit, ujungnya
berbahaya. Kamu nanti hanya ingin membanggakan dirimu saja.”
Suara perempuan itu kembali muncul saat aku berpikir untuk menulis
lebih jauh tentang Ripin, Kutub dan motor tuanya. Suara perempuan itu seolah mengingatkanku
bahwa aku harus segera menuliskan inti dari tujuanku menulis ini.
Jadi, pada intinya adalah. Foto yang kubidik sekenanya, yang
tujuannya untuk memberitahukan aku sedang di sebuah tempat untuk bisa saling
bertemu itu, menjadi sebuah foto yang menurutku bagus. Aku tak bisa mengulangi
momennya, meskipun aku bisa mengambil foto yang sama.
“Jadi, intinya?”
“Iya sebentar!”
Intinya, sesuatu yang terencana bisa jadi berjalan baik dan tujuan
(hasil) yang diinginkan bisa diraih
dengan baik pula. Tapi ada sesuatu yang tak terencana pun bisa menelurkan
sebuah hasil yang baik pula.
Intinya, berani berjalan. Jangan mudah berhenti untuk menyerah.
Berhenti boleh, tapi sejenak saja, bukan untuk berhenti selamanya. Sebab akan
ada titik di mana itu benar-benar sebuah pemberhentian. Dan itu sebuah rahasia,
tak ada yang tahu kapan, dan di mana seorang akan menemukan titik itu.

Komentar
Posting Komentar