SELESAIKAN YANG SUDAH DIMULAI !!!
MEMULAI memang sulit, tapi menyelesaikan apa yang sudah dimulai adalah suatu yang tak bisa dipandang sebelah mata dengan kata lain, menyebutnya mudah atau bahkan meremehkannya. Pula jangan menganggapnya sebagai satu hal yang pasti terjadi. Sebab ia sama sulitnya dengan memulai. Keberhasilan seorang menyelesaikan apa yang sudah dimulainya, adalah sebuah peristiwa penting yang diraih atas konsisitensi dan usaha keras orang itu. Oleh karenanya, tak jarang beberapa orang membuat sebuah self apresiation atas apa yang telah berhasil ia lakukan.
Kemarin, judul sekaligus sebuah pengingat ini kubuat. Namun,
kelanjutan dari paragraf pertama ini belum juga berhasil terselesaikan. Sekaligus,
hari ini aku merasa bahwa judul yang kutulis ini benar-benar menjadi sebuah
pengingat untukku. Bahwa tulisan ini harus dilanjutkan dan diselesaikan. Selain
bagian dari tapak demi tapak yang harus kulakukan penuh kesadaran. Melewatkannya
akan membuat suatu hal itu saling tumpang tindih.
Jika kemarin, gagal untuk menyelesaikan. Hari ini harus selesai. Tentu
hari ini akan ada kombinasi dari hari kemarin. Aku tak dapat menolak itu, hal
baru akan selalu ada setiap waktu. Jangankan datang perhari, perdetik pun hal
itu bisa terjadi.
Tentang harus menyelesaikan apa yang sudah dimulai ini, aku juga
mendapatkannya dari perempuan itu. Ia datang selalu dengan ceritanya, yang
intinya tetap saja, aku akan merasa banyak hal yang belum kuketahui. Termasuk hal
penting ini.
“Masih ingin bercerita lebih jauh lagi?” tanya temanku yang selalu
setia mendengar ceritaku. Tapi aku melihat dirinya kali ini menampilkan sebuah
raut wajah yang berbeda dari biasanya.
“Sepertinya, sedikit saja hari ini ceritaku.”
“Aku tahu, kamu belum berhasil membuat sebuah perencanaan. Jadi lebih
baik kamu menghentikan cerita itu dan segera memulai membuat perencanaan.”
“Dari mana kamu tahu?”
“Dari perempuan yang biasa kamu ceritakan padaku.”
“Kamu yakin itu perempuan yang sama?”
“Aku yakin, sebab perempuan itu mengatakan hal yang sama dengan
yang kamu ceritakan.”
“Kamu jangan bercanda?”
“Aku serius, perempuan itu juga smenyuruhku untuk menjadi pendengar
yang baik dari cerita-ceritamu. Dan yang paling inti, perempuan itu juga selalu
menanyakan apakah perencanaan yang sering kamu rencanakan itu sudah berhasil
kamu buat. Atau setidaknya sudah kamu mulai.”
“Sepertinya aku harus mencerna dulu apa yang kamu bicarakan ini.”
“Aku tahu, kamu butuh sendiri untuk segera mulai membuatnya. Aku akan
pergi dulu. Dan saranku, jika kamu bercerita lagi denganku, jangan seperti mengkhotbahiku.
Berceritalah seperti cara perempuan itu bercerita. Aku tahu, perempuan itu
sangat mengesankan dalam bercerita, jangan sampai kamu merusak inti dari pesan
dari cerita itu hanya dengan kurang maunya kamu belajar dari caranya bercerita.
Setidaknya itu yang kurasakan saat perempuan itu juga bercerita padaku, walau baru
sekali saja. Dibandingkan dirimu yang sudah berkali-kali bertemu dengannya.”
Aku terdiam. Hanya bisa berpikir mendengar tamparan itu. Itu dari
temanku sendiri. Aku hanya mencoba untuk
merasakan tamparan itu lebih dalam, lebih dalam, dan lebih dalam, agar bisa
segera memulai membuat sebuah perencanaan. Lalu menjalani dan menyelesaikannya.
Komentar
Posting Komentar