Perempuan itu Melamun, Membual, Lalu Menulis
PEREMPUAN itu memiliki nama besar yang ia raih setelah berhasil menaklukkan dirinya sendiri. Menempa diri dalam komitmen besar yang pantang ia langgar sendiri. Dan buahnya, ia menemukan caranya sendiri dalam berjalan: Memodifikasi hasil lamunannya menjadi sebuah cerita, lalu membual dengan penuh semangat sampai berbusa-busa, akhirnya ia menulis dan menjadikan hasilnya sebagai bentuk terbaik dari apa yang sudah dilaluinya.
Beberapa orang awal mengenalnya sebagai pemusik, penulis lagu.
Karena memang ia melakukan itu semua. Bahkan di dalam keluarganya, ia
dikelilingi oleh saudara-saudaranya yang juga berkecimpung di dunia seni. Dari
situ, kita tahu bahwa keluarga punya dampak besar bagi proyek pembangunan diri
sendiri untuk punya watak/kebiasaan yang akan dibawa sampai tua.
Tentang menulis, ia memang melakukannya sejak belia juga. Bahkan ia
lakukan selalu, di sela jalan lainnya yang utama saat itu yaitu di jalur musik.
Begitulah sebuah kebiasaan baik, yang dilakukan tidak sekadarnya saja akan
menemukan jalan yang tak pernah dikira-kira. Dan dia pun akhirnya mengatakan
bahwa menulis adalah sesuatu yang akan ia lakukan selama ia masih mampu untuk
melakukannya.
Dari situ aku tahu, bahwa ia telah menemukan cara berjalan yang
terbaik untuknya menapaki perjalanan yang entah kapan berakhirnya. Sekali lagi
yang paling inti untuk mengingatkan diriku sendiri adalah ia melakukan semuanya
dengan sepenuh hati, dan dengan cara maupun hasil yang terbaik.
Nyata! Buah dari kegigihannya adalah banyak buku yang ditulis
dengan tidak sekadarnya itu menjadi buku yang banyak dibaca. Aku tak ingin
mengatakannya best seller, sebab aku yakin tujuannya menulis bukan mengejar itu. Tapi yang lebih
membahagiakannya adalah seorang yang membaca bukunya akan mencari tahu tentang
yang lain dari apa yang telah ia tawarkan dalam bukunya.
Ia selalu mengatakan, bahwa apa yang ia tulis itu merupakan inti
dari sebuah perjalanan panjang yang ia lakukanan. Perjalanan panjang yang
dikuatkan dengan komitmen besar di dalamnya. Sehingga awal berjalan maupun
akhirnya pun sudah ia tentukan. Bahkan bahan bakar yang ia kemas dari sejumlah
pengamatan, pembacaan, mendengar dari sumber-sumber yang mendukung, semuanya ia
lakukan dengan diiringi komitmen besar.
“Boleh aku bertanya?”
“Tentu temanku! Kamu ingin bertanya apa?”
“Apa tujuanmu menceritakan tentang perempuan itu padaku?”
“Tak lain dan tak bukan hanyalah untuk mengingatkan pada diriku
sendiri. Bahwa aku harus berjalan dengan kesadaran penuh yang disertai pegang
teguh atau yang biasa disebut komitmen oleh umum.”
“Lalu aku?”
“Aku juga berharap, dari bualan ini, kamu bertanya siapakah
sebenarnya perempuan itu. Perempuan yang sebenarnya mulai membuatmu ingin
melakukan apa yang kau inginkan dengan sebuah usaha yang tak biasa-biasa saja.”
“Apa kau pernah bertemu dengannya?”
“Aku pernah merasa bersamanya dengan hanya duduk membaca bukunya.
Tapi aku benar-benar telah bertemu dengannya kemarin. Di sebuah pertemuan maya
yang dengan cara tertentu kuubah yang maya itu menjadi terang dan nyata.”
“Ok cukup, terima kasih atas bualanmu!”
Komentar
Posting Komentar