MERENCANAKAN SEBUAH PERENCANAAN

 “RENCANA adalah bagian penting dari sebuah proses berkarya. Bagi seorang pemula, memiliki perencanaan yang matang adalah satu hal yang harus diserius patuhi.”

Lagi-lagi perempuan itu selalu tampak memukau dari setiap pertemuanku dengannya. Ia selalu mengatakan memiliki perencanaan yang bagus untuk menghasilkan sebuah karya yang tampil dalam versi terbaiknya.

Hasil dari pertemuanku dengannya beberapa hari kemarin, aku bertekad membuat sebuah perencanaan. Dengan kata lain, aku bisa kalian bilang sedang merencanakan sebuah perencanaan. Meskipun aku tahu, kalian juga akan mengatakan suatu hal yang sama dengan yang aku pikirkan.

Itu tentang kebiasaanku yang hanya berencana, tapi kadang tak pernah nyata dalam bertindak. Artinya, ada beberapa perencanaan yang kubuat, justru perencanaan itulah yang abadi. Tak pernah berbuah tindakan. Berbuah pun tak lebat, parahnya jika berbuah justru lebih cepat membusuknya.

Namun, pertemuanku dengan perempuan itu kemarin justru mengingatkanku lagi tentang pentingnya perencanaan. Bukan hanya untuk pemula saja. Untuk yang sudah profesional pun perencanaan menjadi satu hal yang tak bisa ditawar. Meskipun sebenarnya dalam perencanaan ada yang namanya tawar menawar. Tawar menawar dalam perencanaan adalah kemampuan kita untuk memahami betul bagian-bagian yang benar-benar realistis untuk dilakukan, termasuk dalam membangun sebuah target atau tujuan.

Dan pagi ini pun aku sadar betul, bahwa pengetahuanku tentang sebuah perencanaan sangatlah sedikit. Sepertinya itu satu masalah yang harusnya kupecahkan. Itu menjadi musabab gagalnya aku dalam perencanaan-perencanaan yang pernah kubuat. Juga musabab kenapa aku sejauh ini lebih banyak merencanakan perencanaan, bukan benar-benar membuat perencanaan.

“Apa benar, yang kamu katakan ini dari perempuan itu?”

“Tentu! Apa kamu meragukanku?”

“Bukan begitu, tapi aku tahu sebenarnya kamu sendiri sedang ragu bukan?”

“Maksudmu?”

“Tidak, aku hanya bercanda.”

“Kamu benar, aku sendiri sedang ragu untuk berbicara padamu tentang semua ini. Apa benar nantinya ini semua benar-benar mampu membuatku menemukan apa itu perencanaan?”

“Kamu hanya perlu tarik napas dan belajar merasakannya. Sejauh ini, menurutku, kamu tak pernah menghiraukan apapun rasa yang muncul. Kamu hanya berjalan saja. Sampai akhirnya kamu lebih sering mengubah jalanmu sendiri dan melupakan yang sudah kamu rencanakan.”

“Jadi, aku harus?”

“Apapun yang menghalangi, tak selamanya wujudnya menyakitkan. Pun wujudnya yang menyenangkan bisa jadi itu sebuah penghalang yang jauh lebih besar pada dirimu. Jadi, kamu harus mematangkan perencanaanmu agar tak mudah goyah dalam bersikap!”

“Ahhh, kamu ini, bukannya dari tadi sudah kubilang kalau intinya aku masih belum sepenuhnya memahami apa itu perencanaan.”

“Kalau begitu aku benar kan?”

“Terserah kamu!”

“Jangan seperti itu, aku yakin perempuan itu tak akan pernah bilang terserah kalaupun ia ditanya ingin makan apa oleh kekasihnya. Sebab ia akan bertindak dengan kesadaran penuh tentang apapun yang ia kerjakan, sebagai bentuk dampak baik dari terbiasanya ia berencana.”

“Baiklah! Terima kasih! Sudah cukup, jangan bertanya lagi! Aku ingin kamu kali ini bercerita. Biar kamu tak hanya berkomentar saja!”

Komentar

Postingan Populer