Nasib Keluarga Juru Taman Kota
Sebuah taman kota yang ada di Kota Jogjakarta. Taman kota tersebut hadir dengan gaya penuturan khas seorang G. Budi Subanar atau yang biasa dipanggil Romo Banar. Sebagai seorang yang lahir di Yogyakarta, dan sebagai seorang rohaniawan sekaligus budayawan. Taman kota tersebut digambarkan dengan perasaannya sendiri secara epik sebagai penduduk asli. Bukan sebagai seorang wisatawan atau seorang yang singgah sementara di sebuah kota.
Pembaca yang terbiasa dengan karya Romo Banar akan mendapatai novel Mata Air, Air Mata Kota ini sebagaimana membaca karya-karya Romo Banar yang lain. Seperti, Hilangnya halaman rumahku (2013), dan Bayang-bayang sejarah kota pendidikan (2007). Yang sama-sama menghadirkan sebuah perjalanan hidup seorang yang ada di Jogjakarta.
Romo Banar juga mengahadirkan tokoh-tokohnya dengan sangat menarik. Mereka adalah manusia yang hidup pada masa 1970-an hingga 1980-an. Yang menampilkan sebuah interaksi khas masyarakat yang hidup berdampingan satu sama lain.
Taman kota di sini adalah sebuah setting tempat yang ada di tengah kota Jogjakarta. Tergambar sangat detail “sejajar dengan bangunan gedung-gedung di situ, ada sepetak taman memanjang yang membentang di ruas Jalan Senopati. Sisi timurnya berbatasan dengan perempatan Gondomanan, sedang di sebelah barat berbatasan dengan perempatan titik nol.” (hal. 10).
Dari taman kota itulah hidup seorang juru taman bernama Pak Suro. Keluarga tersebut secara turun temurun telah merawat taman itu. Sampai akhirnya keluarga Pak Suro dan mbok Suro beserta anak-anaknya menjalani hidup dengan penuh makna. Namun justru berakhir dengan terusirnya keluarga itu dari taman kota yang telah dirawat secara turun temurun dirawatnya karena alasan kemajuan pembangunan.
Nasib Keluarga Juru Taman Kota
Keluarga Pak Suro dan Mbok Suro boleh jadi sebuah keluarga imajiner. Tetapi citraan geografis taman kota mengantar pembaca pada gambaran asli daerah istimewa Yogyakarta. Pun fakta-fakta sosio-historisnya, antara tahun 1970-an dan 1980-an terasa dekat dan mampu mengahadirkan gambaran kondisi pada masa-masa itu degan sangat mendalam. Sehingga membacanya seolah betul-betul merasakan nuansa yang puitis, romantis, bahkan mencekam pada saat itu.
Dan yang paling menarik pilihan Romo Banar mengetengahkan pada persoalan perubahan zaman. Perubahan zaman yang terjadi di tahun 1970-an hingga tahun 1980-an. Perubahan-perubahan tersebut tidak hanya digambarkan pada kondisi masyarakat saja. Tetapi juga perubahan kondisi keluarga Pak Suro dan Mbok Suro. Seperti halnya nasib taman kota yang pada awalnya menjadi salah satu sisinya dimanfaatkan keluarga Pak Suro juga sebagai tempat tinggal dan tempat singgah para bajingan dengan gerobak-gerobaknya. Akhinya berubah menjadi Pom Bensin dan terminal kendaraan umum.
Tak hanya itu, profesi mbok Suro sebagai pembatik pun ikut berubah seiring perubahan di sekitar tempat tinggalnya. Mbok Suro tidak lagi membatik dan membuka warung makan untuk para pekerja pembanguan pom bensin. Kesibukannya menjaga warung makan membuatnya tidak lagi punya waktu untuk membatik. Ditambah adanya terminal kendaraan, warung makan itu bertambah ramai. Digunakan oleh para sopir untuk istirahat dan menunggu penumpang. Kawasan itu tidak lagi digunakan singgah para bajingan dan gerobaknya.
Meskipun awalnya pekerjaan sebagai juru taman didapatkan Pak Suro secara turun temurun. Bahkan di tangan seorang juru taman, ia memegang sejumlah kuasa. Ia juga seorang pekerja yang tekun. Hampir dua puluh empat jam sehari ia berada di tempat kerjanya.
Kendati pun demikian, profesi itu sama sekali tidak di perhitungkan saat itu. Meskipun demikian, anak-anak Pak Suro tidak pernah malu dengan pekerjaan orang tuanya. Bahkan semua teman-temannya pun tahu kalo mereka anak dari seorang juru taman. Namun anak-anak Pak Suro mampu meraih pencapaian yang sangat besar dalam kehidupannya yang memberikan kebanggaan tersendiri sebagai seorang anak dari juru taman kota. “anak-anak Pak Suro dan Mbok Suro, ketiganya memberi kepuasan tersendiri. Yang pertama, melanjutkan kerja mengurusi bumi dan tanah seperti yang dilakukan dalam profesi juru taman. Yang kedua, menjadi guru melanjutkan karya memberi nasihat dan menularkan kepandaian. Kadang-kadang, Pak Suro memberi nasihat pada orang, para bajingan, atau orang yang mengadu pada Mbok Dewi Juru Taman. Atau sesekali ia akan menuntun kepada kebaikan dan memberikan pengharapan seperti yang dilakukan para bakul pasar yang kirim donga melalui kembang yang ditaruh di depan Mbok Dewi Juru Taman. Yang ketiga sekolah seni lukis. Sekolah yang mau menyembuhkan penyakitnya Simbok Suro dan membuat pekerjaan Pak Suro tidak dibuat kotor. Mereka anak-anak yang membanggakan.”
Begitulah zaman berubah dengan tidak serta merta. Dalam kehidupan sehari-hari, perubahan berlangsung dalam proses, baik disadari maupun tidak disadari, direncanakan ataupun tidak. Demikianlah yang terjadi pada Jogjakarta dan warganya di saat 1970-an hingga 1980-an. Dan perubahan-perubahan tersebut bisa kita saksikan dalam banyak hal dalam kehidupan hingga saat ini.
Pernah dimuat di Malang Post

Komentar
Posting Komentar