Melepas Gara
Sebuah kisah yang dihimpun secara personal oleh seorang Edi AH Iyubenu dan dijadikannya sebagai amunisi untuk mengisi rongga jiwanya dengan penuh ekspresi kebahagiaan, juga rasa sayang pada anak laki-lakinya bernama Gara. Kisah-kisah yang ditulisnya ini digambarkan dengan perasaannya sendiri secara epik tanpa campur tangan siapa pun. Bukan sebagai seorang yang sebatas mengamati dari jauh seorang Gara, melainkan sebagai sosok yang sangat dekat dan lekat sebagai orang tua, yang setiap rekaman interaksinya ia tuangkan dalam tulisan ini.
Pembaca yang terbiasa dengan karya Edi AH Iyubenu akan mendapati sebuah perjalanan alami yang sangat mudah untuk ditangkap nilai-nilai kehidupan yang ingin disampaikannya. Seperti halnya dalam cerpen-cerpen Edi AH Iyubeni yang ia tuturkan secara sederhana namun sangat bisa dinikmati oleh pembaca, buku ini pu ia tuturkan dengan cara yang sama. Sederhana, lugas, dan penuh nilai-nilai kehidupan.
Dua tokoh sentral dalam buku ini adalah seorang Edi AH Iyubenu itu sendiri dan Gara anaknya. Hubungan antara anak dan bapak ini digambarkan secara utuh dan tak lekang oleh waktu. Bisa dibilang itulah salah satu alasan seorang Edi AH Iyubeni menuliskan dan mengabadikan momen kebersamaan bersama anak laki-lakinya itu. hal tersebut juga disampaikan secara gamblang di pengantar buku ini. “Sebab anak-anak tetaplah anak-anakku dan aku tetaplah orang tua mereka.”
Kisah-kisah yang terhimpun dalam buku ini tampak secara khusus disampaikan untuk mengenang sebuah momen yang tak bisa dilupakan oleh Edi AH Iyubenu dan Gara anaknya juga semua keluarganya. Yaitu momen keberangkatan Dik Gara sapaan akrab dari Edi AH Iyubenu ketika akan berangkat mondok di pesatren Pandanaran Yogyakarta.
Sebelum sampai pada momen puncak yang menjadi inti himpunan kisah dalam buku ini, tak lupa seorang Edi AH Iyubenu, ayahnya Gara ini juga menggambarkan interkasinya semasa Dik Gara masih kanak-kanak. Seperti kutipan kisahnya dari sub judul Lucunya Anak-Anak yang menjadi sub judul pembuka dalam buku ini. “Anak-anak lucu sedemikian alamiahnya, ya karena khittah batin anak-anak tanpa beban apa-apa, sehingga ia hanya khusyuk dengan dunia bermain. Pokoknya, bermain yang membuat hati dan dirinya senang. Apa saja.” Di situ kelihatan sangat bahwa seorang Edi AH Iyubenu begitu lekatnya mengamati dan menikmati masa anak-anaknya Dik Gara.
Sub judul lain yang juga menggambarkan sifat asali anak-anak dari Dik Gara adalah Beli Mainan, Ngumpetin PR, dan Merpati Dik Gara. Salah satu kutipan kisahnya lagi yang ada di sub judul Ngumpetin PR “Entah dapat ilham dari mana dan- menurutku ini keren-suatu hari, mamanya kaget menemukan tumpukan PR di balik kasur dan lemari bajunya. Ya di antara lipatan baju-bajunya.”
Belum lagi dialog-dialog yang dibangun dalam buku ini sangatlah hidup. Bahkan seorang pembaca akan dibawanya, seolah sedang melihat sebuah adegan langka dalam kehidupan ini. Adegan langka dari seorang ayah, ibu juga anaknya. Dialog-dialog ini terbangun dengan sangat alami dan khas seorang anak yang begitu hidup jiwa anak-anaknya. Masih di sub judul Ngumpetin PR dialog Dik Gara dengan mamanya ini sangat luar biasa hikmahnya jika kita mampu mengambil nilai-nilai kehidupan yang ingin disampaikan oleh seorang Edi AH Iyubenu. “Jangan apa-apa gitu. Itu kenapa kamu nyembunyiin PR-PR di balik kasur?”dan begitu polos dan cerdasnya anak ini ia menjawab smua itu dengan sifat alamiah sesuai batin seorang anak-anak. “Masak sih, Mah?” “Halah….”
Cukup dengan kisahnya Dik Gara dengan masa kanaknya, lanjut ke masa di mana Dik Gara mulai tampak dengan segala antusiasnya pada hal-hal menarik di sekitarnya. Hal itu juga tersampaikan dengan epik khas seorang ayah menceritakan tentang kedekatannya yang begitu lekat dengan anak laki-lakinya.
Misalnya di sub judul Ngedrum seoarang Edi AH Iyubenu mengatakan “Aku tak pernah memaksa anak-anak mesti bisa ini bisa itu, suka ini suka itu. Sudahlah. Terserah passion mereka saja.” Tentu ini bukan hanya ungkapan pelengkap dalam buku ini saja. Melainkan ungkapan batin seorang ayah yang ingin anaknya benar-benar hidup dalam mengarungi kehidupan ini. Tampak seorang Edi AH Iyubenu menyampaikannya dengan penuh kepahaman total bagaimana seorang anak sudah semestinya hidup dengan jalannya sendiri sebagai putra putri kehidupan.
Hal itu diperkuat dengan bait-bait ungkapan hati darinya yang tergambar penuh perasaan dalam menuliskannya.
“Anakmu bukanlah milikmu
Mereka putra-putri kehidupan yang rindu pada dirinya.
Lewatmu mereka lahir, tetapi bukan darimu.
Meski mereka bersamamu, mereka bukan hakmu.
Berikan kasih sayangmu, tapi jangan paksakan
Kehendakmu.”
Dan sampailh pada puncak momen yang ingin disampaikan oleh seorang Edi AH Iyubenu ini. Yaitu momen seorang Dik Gara berangkat ke pesantren untuk memenuhi tugas dan menjadi putra kehidupan itu sendiri.
Gambaran batin sorang ayah yang kedekatannya sangat total dengan anaknya ini akan sangat terasa. Dari sub judul yang ia tulisakan saja sudah sangat kental dengan pergolakan batin yang sangat dalam pada momen itu. Tentu dengan membaca judul-judul seperti Gemuruh Melepaskan Dik Gara di Pesantren, dan Kepergianmu Le, seorang akan sangat mudah menangkapa bagaimana gejolak perasaan yang dialami seorang ayah saat melepaskan anaknya untuk mengarungi kehidupannya menuju jenjang yang lain yang mesti ia jalani.
Sub Judul lain adalah Melepaskan Gara. Di dalamnya terdapat gambaran sebuah guratan rasa yang mungkin akan menjadi ingatan abadi bagi Dik Gara. Seperti yang pernah dialami juga oleh ayahnya. “Sekarang Gara tak menangis, ia malah berkata mulai kerasan, dan tepat pada desiran ucapannya itu akulah yang justru menangis. Pondok membuatku mennagis dua kali: dulu saat aku ditinggalkan orang tuaku dan kini saat mesti meninggalkan anakku.”
Pernah terbit di www.harianbhirawa.co.id

Komentar
Posting Komentar